MAKALAMNEWS.ID - Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi, Ir. H. Ivan Wirata mengingatkan seluruh jajaran pemerintah daerah dan Satgas Karhutla agar tidak menurunkan kewaspadaan meskipun jumlah hotspot harian pada 19 September 2026 tercatat lebih rendah dibanding sehari sebelumnya.
Berdasarkan laporan Posko Satgas Karhutla Provinsi Jambi per Sabtu, 19 September 2026, terdapat 84 hotspot pada periode pukul 00.00–15.00 WIB.
Sementara, secara kumulatif sepanjang 2026 jumlah hotspot telah mencapai 9.536 titik, dengan estimasi luas lahan terbakar sekitar 3.416,21 hektare.
Menurut Ivan, situasi tersebut menunjukkan bahwa karhutla tidak dapat dinilai hanya berdasarkan naik-turunnya hotspot dalam satu hari.
"Hotspot harian turun, tetapi kita belum boleh lengah. Luas lahan terbakar masih bertambah dan kualitas udara di sejumlah wilayah masih sangat tidak sehat. Jadi ukuran keberhasilan bukan sekadar hotspot hari ini turun, tetapi apakah kebakaran berhenti meluas dan masyarakat terlindungi," katanya.
Tanjab Timur jadi Konsentrasi Hotspot
Dari 84 hotspot yang tercatat hingga pukul 15.00 WIB, 74 titik berada di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, atau sekitar 88 persen dari total hotspot hari berjalan. Muaro Jambi tercatat empat titik, sedangkan Tebo dan Sarolangun masing-masing tiga titik.
Ivan menilai konsentrasi tersebut harus segera diterjemahkan menjadi prioritas operasi lapangan.
"Kalau hampir sembilan dari sepuluh hotspot hari ini terkonsentrasi di Tanjab Timur, maka personel, peralatan, sumber air dan dukungan operasi harus mengikuti peta risiko aktual. Jangan sampai kita terlambat dan hotspot berkembang menjadi kebakaran luas," ujarnya.
Ia mendorong setiap hotspot prioritas segera diverifikasi dan, apabila ditemukan kebakaran, dilakukan ground attack secepat mungkin dengan sasaran waktu respons kurang dari 24 jam.
Batanghari Catat Luas Terbakar Terbesar
Dari estimasi luas terbakar sekitar 3.416,21 hektare, Batanghari mencatat luas terbesar sekitar 1.175,59 hektare, disusul Muaro Jambi 556,61 hektare, Sarolangun 508,55 hektare, Tanjung Jabung Barat 493,75 hektare, Tebo 315,71 hektare, dan Tanjung Jabung Timur 271,70 hektare.
Menurut Ivan, data ini menunjukkan bahwa strategi setiap wilayah tidak dapat disamaratakan.
Tanjab Timur membutuhkan respons cepat terhadap hotspot aktual, Batanghari membutuhkan pengendalian perluasan kebakaran dan pendinginan, sedangkan Sarolangun dan Tebo memerlukan pencegahan struktural karena beban hotspot kumulatifnya sangat tinggi.
Secara kumulatif, hotspot terbanyak sepanjang 2026 tercatat di Sarolangun 1.930 titik, Tebo 1.804 titik, Tanjung Jabung Barat 1.495 titik, Batanghari 1.327 titik, dan Muaro Jambi 1.239 titik.
"Anggaran, personel dan peralatan harus semakin berbasis risiko. Wilayah dengan hotspot berulang, lahan terbakar luas, gambut rawan dan dampak kesehatan tinggi harus memperoleh intervensi yang sesuai dengan persoalannya," katanya.
ISPU Tinggi Perlindungan Kesehatan Diperkuat
Persoalan serius lainnya adalah kualitas udara. Laporan 19 September mencatat ISPU Muaro Jambi 286, Kota Jambi 217, dan Tebo 209, yang pada laporan Satgas berada pada kategori Sangat Tidak Sehat. Sementara Tanjung Jabung Timur tercatat 148 dengan kategori Tidak Sehat.
Ivan menilai, data tersebut memperlihatkan bahwa karhutla telah menjadi persoalan kesehatan masyarakat, bukan semata-mata persoalan kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, menurutnya, strategi harus menggabungkan Fire Response dan Health Response.
"Ketika ISPU sudah sangat tidak sehat, maka yang kita lindungi bukan hanya hutan dan lahan, tetapi manusia. Dinas Kesehatan, rumah sakit, puskesmas, sekolah dan pemerintah daerah harus bergerak bersama, terutama melindungi anak-anak, lansia, ibu hamil dan kelompok rentan," katanya.
Ia juga menyoroti kondisi Muaro Jambi yang hanya mencatat empat hotspot pada periode laporan, tetapi mempunyai ISPU tertinggi.
Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa peta dampak asap tidak selalu sama dengan peta hotspot.
Karena itu data hotspot perlu diintegrasikan dengan arah angin, PM2.5/ISPU, lokasi kebakaran aktual dan konsentrasi permukiman penduduk.
Ivan: Jangan Bergantung pada Langit
Ivan kembali menegaskan pentingnya pendekatan “Ground First — Air Support.”
Pada 19 September, beberapa operasi udara kembali dilakukan. Laporan Satgas antara lain mencatat helikopter RA-22840 melakukan 30 kali water bombing dengan total 120 ribu liter air, N-274TH 59 kali dengan sekitar 236 ribu liter, serta VN-8414 sebanyak 29 kali dengan sekitar 116 ribu liter.
Ivan mengapresiasi dukungan tersebut, tetapi mengingatkan operasi udara sangat dipengaruhi kondisi cuaca, jarak pandang dan kesiapan teknis armada.
"Kita jangan selalu mengandalkan OMC, water bombing dan menunggu hujan untuk menyelesaikan Karhutla. Yang harus diperkuat justru kemampuan di darat: deteksi dini, sumber air, pembasahan gambut, patroli, MPA, respons kurang dari 24 jam dan pendinginan sampai tuntas," tegasnya.
Menurut Ivan, OMC dan water bombing tetap penting, tetapi harus ditempatkan sebagai penguat operasi, bukan pengganti pencegahan dan kemampuan darat.(*)

Social Header