Berita Terkini

Karhutla Jambi 118 Hotspot Kembali Terdeteksi, Ivan Wirata: Tanjab Timur, Tebo dan Batang Hari Perlu Penanganan Berbeda

Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi Ivan Wirata soroti masalah Karhutla Jambi yang belum usai.(ist)

MAKALAMNEWS.ID - Situasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Jambi masih membutuhkan kewaspadaan tinggi.

Berdasarkan Laporan Harian Siaga Darurat Karhutla Provinsi Jambi per Kamis (24/9/2026) hingga pukul 19.00 WIB, tercatat 118 hotspot pada periode pukul 00.00–16.00 WIB, hotspot kumulatif 2026 mencapai 10.200 titik, sementara estimasi luas lahan terbakar telah mencapai ±3.697,26 hektare.

Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi Ir. H. Ivan Wirata menilai, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa penanganan Karhutla tidak bisa menggunakan pendekatan yang sama untuk seluruh daerah.

Menurutnya, saat ini setidaknya terdapat tiga persoalan yang berbeda: Tanjung Jabung Timur menghadapi konsentrasi hotspot aktif, Tebo mengalami kenaikan estimasi luas terbakar yang perlu ditelusuri, sementara Batanghari tetap menjadi daerah dengan luas terbakar kumulatif terbesar.

"Data harus menggerakkan operasi. Tanjab Timur jangan sampai hotspot hari ini berubah menjadi luasan kebakaran besar. Tebo perlu kita telusuri mengapa estimasi luas terbakarnya bertambah, sedangkan Batanghari harus mempertahankan containment dan mop-up agar tidak terjadi perluasan maupun kebakaran ulang," kata Ivan.

101 Hotspot Terkonsentrasi di Tanjab Timur

Dari 118 hotspot yang tercatat pada 24 September pukul 00.00–16.00 WIB, laporan Posko mencatat 101 titik berada di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, atau sekitar 85,6 persen.

Angka tersebut menjadikan Tanjab Timur sebagai titik perhatian operasi pada hari itu.

Ivan menilai kondisi tersebut harus segera diterjemahkan menjadi verifikasi lapangan. 

Hotspot merupakan indikasi panas dari pemantauan satelit dan tidak otomatis identik dengan titik kebakaran.

Karena itu, setiap hotspot prioritas perlu diverifikasi untuk menentukan lokasi yang benar-benar membutuhkan pengerahan sumber daya.

"Jangan berhenti pada angka hotspot. Pertanyaannya adalah berapa yang sudah diverifikasi, berapa yang menjadi fire spot, kapan tim tiba, apakah sumber air tersedia, kapan ground attack dilakukan dan berapa cepat perimeter berhasil dikunci," ujarnya

Ivan mendorong respons kurang dari 24 jam menjadi sasaran operasional untuk kejadian prioritas yang telah terverifikasi.

Luas Terbakar Jambi Capai 3.697,26 Hektare

Laporan terbaru mencatat estimasi luas terbakar Jambi mencapai ±3.697,26 hektare.

Batanghari masih menempati posisi terbesar dengan 1.222,79 hektare, disusul Tanjung Jabung Barat 639,55 hektare, Muaro Jambi 556,61 hektare, Sarolangun 508,55 hektare, Tebo 403,76 hektare, dan Tanjung Jabung Timur 271,70 hektare.

Dibandingkan laporan 22 September yang mencatat ±3.603,71 hektare, angka terbaru bertambah sekitar 93,55 hektare.

Namun Ivan mengingatkan bahwa perubahan estimasi antar-laporan tidak boleh otomatis ditafsirkan seluruhnya sebagai kebakaran baru. 

Perubahan dapat berkaitan dengan perluasan kejadian lama, kejadian baru, kebakaran ulang, maupun pemutakhiran hasil pengukuran burn scar.

Tebo Bertambah 88,05 Hektare, Perlu Audit

Perubahan paling menonjol terlihat di Kabupaten Tebo. Pada laporan 22 September, estimasi luas terbakar Tebo tercatat 315,71 hektare. Dalam laporan 24 September, angkanya menjadi 403,76 hektare.

Artinya terdapat perubahan sekitar 88,05 hektare.

Ivan meminta perubahan tersebut ditelusuri secara teknis, bukan langsung disimpulkan penyebabnya.

"Kita perlu audit per kejadian. Overlay koordinat hotspot, fire spot dan burn scar. Lihat waktu deteksi, waktu respons, sumber air, containment dan mop-up. Kita harus mengetahui apakah 88 hektare ini berasal dari kejadian baru, perluasan kebakaran sebelumnya, re-ignition atau pembaruan pengukuran," katanya.

Dengan demikian, evaluasi karhutla tidak lagi cukup menggunakan rekap total per kabupaten, tetapi membutuhkan rekam jejak operasional setiap kejadian.

Sementara itu, Kabupaten Batang Hari masih menjadi daerah dengan estimasi luas terbakar terbesar, yakni 1.222,79 hektare, sekitar sepertiga dari total luas terbakar yang tercantum dalam laporan.

Dibandingkan data 22 September sebesar 1.217,29 hektare, terdapat pertambahan sekitar 5,50 hektare.

Ivan menilai perkembangan ini perlu dijaga melalui containment dan mop-up secara konsisten.

"Batang Hari jangan lengah. Luas kumulatifnya masih yang terbesar. Kalau api sudah berhasil dikendalikan, pekerjaan berikutnya adalah pendinginan sampai tuntas dan patroli ulang. Targetnya bukan hanya api tidak terlihat, tetapi zero re-ignition dan luas terbakar berhenti bertambah," ujarnya.

Kualitas Udara Belum Sepenuhnya Aman

Selain api, laporan terbaru menunjukkan persoalan kualitas udara masih harus diperhatikan.

Data ISPU pada 24 September pukul 08.00 WIB mencatat Muaro Jambi 187, Kota Jambi 123, dan Tanjung Jabung Timur 103, yang seluruhnya dikategorikan Tidak Sehat dalam laporan. Sementara Tebo berada pada angka 71 atau kategori Sedang.

Angka-angka tersebut lebih rendah dibanding laporan 22 September. Namun, Ivan mengingatkan kalau perbaikan sesaat tidak berarti ancaman asap telah berakhir.

Karena itu penanganan harus menggunakan tiga lapis respons:

Fire Response + Smoke Response + Health Response

"Lokasi api tidak selalu sama dengan lokasi masyarakat yang menerima dampak asap paling berat. Kita membutuhkan peta api sekaligus peta pergerakan asap, kualitas udara, kepadatan penduduk dan fasilitas kesehatan," kata Ivan.

Data 7.824 Kasus ISPA Perlu Dibaca Hati-hati

Laporan juga mencantumkan 7.824 kasus ISPA dalam rekap kesehatan.

Ivan mengingatkan angka tersebut tidak boleh langsung dinyatakan seluruhnya sebagai akibat karhutla. 

Hubungan sebab-akibat membutuhkan analisis lebih lanjut terhadap periode kejadian, kualitas udara, konsentrasi PM2.5, paparan masyarakat dan data kesehatan.

Selain itu, periodisasi pada laporan perlu dikonsolidasikan dengan sumber SKDR Dinas Kesehatan agar tren antarminggu dapat dibandingkan secara konsisten.

"“Data kesehatan harus kita perlakukan secara ilmiah. Jangan membuat kesimpulan kausal yang belum dibuktikan. Tetapi ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat, pemerintah tetap harus memperkuat perlindungan masyarakat, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil dan kelompok rentan,"  ujarnya.

Dorong One Map–One Data–One Command

Ivan Wirata juga menyoroti pentingnya konsolidasi data Karhutla.

Menurutnya, hotspot, fire spot, luas burn scar, sumber air, gambut, status lahan, arah angin, ISPU, kesehatan, operasi udara hingga penegakan hukum harus dapat dibaca dalam satu sistem.

Hal ini menjadi penting karena laporan 24 September sendiri memberikan catatan mengenai pencantuman Muaro Jambi dua kali pada data hotspot harian sesuai sumber data yang diterima.

"Kalau datanya berbeda-beda dan tidak terkonsolidasi, keputusan operasional juga bisa terlambat. Kita membutuhkan One Map–One Data–One Command," ujarnya.

Ivan juga mendorong agar penanganan Karhutla Jambi bergerak melalui enam tahapan yang saling terhubung:

PREVENT → ATTACK → CONTAIN → MOP-UP → PROTECT → ENFORCE & RESTORE.

Pencegahan dilakukan sebelum api muncul. Ground attack dilakukan secepat mungkin ketika kejadian terverifikasi. 

Containment memastikan api tidak berkembang. Mop-up mencegah kebakaran ulang. Perlindungan masyarakat berjalan ketika asap berdampak pada kualitas udara. 

Setelah kebakaran, penegakan hukum dan pemulihan ekosistem harus tetap dilakukan.

"Ukuran keberhasilan jangan hanya berapa helikopter terbang atau berapa kali water bombing. Ukur apakah hotspot dapat diverifikasi cepat, api tidak meluas, response time semakin pendek, tidak terjadi re-ignition, kualitas udara membaik, masyarakat terlindungi, proses hukum berjalan berdasarkan bukti dan ekosistem dipulihkan," kata Ivan.

Ia menegaskan bahwa situasi 24 September memberikan tiga pesan operasional yang berbeda: Tanjab Timur harus mencegah 101 hotspot berkembang menjadi luasan baru, Tebo harus menelusuri kenaikan estimasi 88,05 hektare, sedangkan Batang Hari harus mempertahankan containment dan mop-up pada luasan kumulatif 1.222,79 hektare.

"Jangan menunggu api membesar baru kita bergerak. Cegah sebelum terbakar, respons sebelum meluas, dinginkan sampai tuntas, lindungi masyarakat dari asap, tegakkan hukum berdasarkan bukti dan pulihkan ekosistem. Itulah makna Ground First — Air Support," pungkas Ivan.(*)

© Copyright 2022 - MakalamNews Berita Untuk Anda