Berita Terkini

Ivan Wirata: Gambut Bukan Lahan Kering, Air Harus Dipertahankan untuk Cegah Karhutla

Gubernur Jambi saat meninjau karhutla. Ivan Wirata sebut gambut Jambi terancam, minta pencegahan karhutla dimulai dari hulu.(ist)


MAKALAMNEWS.ID - Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi H Ivan Wirata mengapresiasi kajian Prof. Dr. Ir. H. Aswandi dari Universitas Jambi yang menekankan pentingnya memandang gambut sebagai ekosistem air, bukan sekadar lahan yang harus dikeringkan untuk kepentingan budidaya. 

Menurut Ivan, pemahaman tersebut menjadi kunci dalam memperkuat upaya pencegahan kebakaran gambut, karena ancaman karhutla sejatinya telah terbentuk jauh sebelum api muncul.

Kajian ini mengingatkan kita bahwa kebakaran gambut tidak dimulai ketika api muncul. 

Ancaman tersebut sudah terbentuk sejak muka air tanah menurun, kanal-kanal menguras air, tutupan lahan berubah, dan gambut kehilangan kemampuan alaminya untuk menyimpan air.

Data DAS Air Hitam Laut yang disampaikan sangat mengkhawatirkan. Panjang jaringan kanal mencapai sekitar 524 kilometer, dengan sekitar 444 kilometer berada di bagian hulu. 

Kajian tersebut juga menunjukkan peningkatan luas perkebunan dan HTI, penyusutan kawasan semak/rawa, serta indikasi penurunan permukaan gambut sekitar 3–4 meter pada lokasi tertentu selama kurang lebih 22 tahun.

Temuan ini harus menjadi peringatan bersama. Kerusakan tata air di bagian hulu tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran, tetapi juga dapat menimbulkan banjir, emisi karbon, kehilangan keanekaragaman hayati serta mengancam kawasan hilir, termasuk ekosistem penting Taman Nasional Berbak Sembilang.

Karena itu, penanganan kebakaran hutan dan lahan tidak boleh hanya berorientasi pada deteksi hotspot dan pemadaman. 

Pemerintah daerah harus memperkuat pencegahan melalui audit jaringan kanal, pemulihan hidrologi, pembangunan sekat kanal secara terukur, perlindungan kawasan hulu, pemantauan muka air tanah dan subsidensi, serta pengawasan terhadap kepatuhan dunia usaha.

Menurutnya, DPRD Provinsi Jambi akan mendorong agar hasil kajian akademik ini menjadi salah satu bahan evaluasi kebijakan pembangunan dan pengelolaan gambut. 

"Kami juga mendorong adanya koordinasi antara Pemerintah Provinsi Jambi, pemerintah kabupaten, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat, serta instansi pemerintah pusat," ujarnya.

Ivan bilang, ukuran keberhasilan pengelolaan gambut tidak boleh hanya dilihat dari berapa hektare kebakaran yang berhasil dipadamkan. 

"Keberhasilan harus diukur dari berapa banyak air yang dapat dipertahankan, seberapa kecil laju subsidensi, berapa luas gambut yang dipulihkan, serta seberapa besar risiko kebakaran dapat dicegah," katanya.

Pesan Prof. Aswandi sangat jelas: gambut bukan lahan kering. Jika airnya terus dikuras, maka api hanya menunggu pemicu. 

Oleh sebab itu, penyelamatan gambut harus dimulai sebelum asap memenuhi langit—yakni ketika air masih tersimpan di dalam tanah.(min)


© Copyright 2022 - MakalamNews Berita Untuk Anda