MAKALAMNEWS.ID - Berdasarkan laporan harian Satgas Karhutla Provinsi Jambi per 1 September 2026 pukul 19.00 WIB, hanya terpantau 19 hotspot hingga pukul 16.00 WIB, setelah pada 31 Agustus tercatat 11 hotspot.
Namun, laporan tersebut mencatat akumulasi hotspot 2026 sebesar 5.198 titik dan estimasi luas lahan terbakar 1.776,56 hektare.
Data luas terbakar 1.776,56 hektare juga dikonfirmasi dalam rapat koordinasi pemerintah daerah dan pemberitaan terbaru. Data pemerintah mencatat Sarolangun sebagai wilayah dengan luas terbakar terbesar, disusul Batanghari, Muaro Jambi dan Tanjung Jabung Barat.
Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi Ir. H. Ivan Wirata, ST, MM, MT mengingatkan pemerintah daerah dan Satgas Karhutla agar tidak terburu-buru mengendurkan operasi setelah jumlah hotspot harian menunjukkan penurunan tajam pada awal September 2026.
Soroti Luas Karhutla 1.776 Hektare
Ivan mengatakan, evaluasi karhutla tidak boleh hanya bertumpu pada angka hotspot harian.
Menurut data pemerintah hingga akhir Agustus, luas Karhutla mencapai 1.776,56 hektare.
Sarolangun tercatat sekitar 473,64 hektare, Batanghari 374,50 hektare, Muaro Jambi sekitar 325 hektare, Tanjung Jabung Barat 292,30 hektare dan Tanjung Jabung Timur 189,63 hektare.
"Hotspot bisa turun dalam hitungan hari, tetapi lahan yang sudah terbakar tidak otomatis pulih. Karena itu September harus menjadi bulan pendinginan, pembasahan kembali dan pemulihan," ujarnya.
Ivan juga meminta pemerintah memperkuat metodologi pengukuran luas kebakaran.
Hal itu dinilai penting karena terdapat perbedaan angka antara data pemerintah dan analisis pihak nonpemerintah mengenai luasan Karhutla Jambi.
Menurutnya, perbedaan tersebut sebaiknya dijawab melalui transparansi metodologi, verifikasi lapangan dan pemetaan spasial yang dapat dipertanggungjawabkan.
Gambut Bisa Kembali Terbakar
Peringatan Ivan sejalan dengan keterangan BPBD Provinsi Jambi bahwa sejumlah lokasi karhutla telah memasuki tahap pendinginan.
Namun, kawasan gambut tetap harus dijaga karena panas dan bara di bawah permukaan dapat kembali memunculkan api.
"Ini alasan saya mengatakan jangan buru-buru demobilisasi. Di gambut, tidak terlihat api bukan berarti persoalan selesai. Pastikan tidak ada bara, lakukan pendinginan, ukur kondisi air dan jaga lokasi sampai benar-benar aman," katanya.
Ivan meminta jaringan pos dan tim lapangan mengubah fokus operasional secara bertahap dari pemadaman menjadi mopping up, rewetting dan monitoring.
Tebo Sangat Tidak Sehat, Asap Belum Selesai
Di tengah menurunnya hotspot, kualitas udara masih menjadi perhatian.
Laporan Satgas 1 September mencatat ISPU Tebo 243 atau kategori Sangat Tidak Sehat, sementara Muaro Jambi 138 dan Kota Jambi 137 berada pada kategori Tidak Sehat. Tanjung Jabung Timur berada pada kategori Sedang.
Menurut Ivan, kondisi tersebut sekali lagi membuktikan bahwa hotspot turun tidak otomatis membuat udara langsung sehat.
"Api dan asap memiliki siklus yang berbeda. Karena itu pemadaman dan perlindungan kesehatan harus tetap berjalan bersamaan," ujarnya lagi.
Menurutnya, Pemerintah Kota Jambi sendiri telah memperkuat layanan darurat dan membagikan sekitar 30 ribu masker sebagai respons terhadap dampak kabut asap serta kekeringan.
Ivan meminta perlindungan khusus diberikan kepada anak-anak, lansia, ibu hamil dan masyarakat dengan gangguan pernapasan.
September Harus Masuk Fase Rewetting
Menurut Ivan, fokus penanganan Karhutla selanjutnya harus mulai bergeser dari sekadar fire fighting menuju water management.
Setelah api dikendalikan, kawasan gambut dan lahan rawan harus kembali dibasahi melalui optimalisasi sumber air, sekat kanal, embung dan pembasahan.
"Jangan selesai pada pemadaman. Setelah api padam, pertanyaannya adalah apakah gambut kembali basah? Kalau tidak, kita hanya menunggu siklus kebakaran berikutnya," katanya.
Ia mendorong konsep MPA-Air atau Masyarakat Peduli Air dikaji sebagai pelengkap Masyarakat Peduli Api, sehingga masyarakat ikut memantau kondisi air, kanal dan embung sebelum kawasan memasuki kondisi kritis.
Selain itu, operasi modifikasi cuaca juga masih menjadi instrumen penting.
BMKG menyatakan potensi awan hujan di Jambi masih tersedia hingga sekitar 2 September, sementara periode 3–6 September diperkirakan lebih cerah. Karena itu penyemaian awan dimaksimalkan selama kondisi atmosfer mendukung.
Ivan mengatakan OMC harus dilihat sebagai bagian dari strategi pengelolaan air, bukan hanya upaya menghasilkan hujan sesaat.
"Kalau OMC menghasilkan hujan, airnya harus kita tahan di lanskap. Masukkan ke embung, kanal, rawa dan gambut. Air yang kita simpan hari ini adalah pertahanan kita menghadapi kekeringan berikutnya," ujarnya.
81 Pos Jangan Langsung Dikurangi
Ivan juga meminta jaringan 81 pos Karhutla tetap dioptimalkan selama masa transisi dari pemadaman menuju pendinginan.
Data terbaru pemerintah menyebut sekitar 5.100 personel ditempatkan pada 81 pos untuk mendukung operasi Karhutla di Jambi.
Menurut Ivan, fungsi pos sekarang perlu berkembang.
"Saat api tinggi, pos menjadi pusat respons. Ketika hotspot turun, pos harus berubah menjadi pusat monitoring, pendinginan dan early warning. Jadi jangan langsung dibubarkan hanya karena hotspot menurun."
Ke depan, ia mendorong setiap pos memiliki indikator response time, kondisi sumber air, muka air gambut, kejadian kebakaran ulang dan luas area yang berhasil dipulihkan.
Sedangkan dari aspek penegakan hukum, sebanyak 10 perkara Karhutla telah masuk ke Kejaksaan Tinggi Jambi dari Polda Jambi. Kejati memastikan proses hukum tetap berjalan beriringan dengan upaya pemadaman dan pencegahan.
Ivan mendukung langkah tersebut dan meminta penegakan hukum dilakukan secara objektif berdasarkan bukti.
"Api dipadamkan, masyarakat dilindungi, tetapi proses hukum juga harus berjalan. Kalau ada unsur pidana, tindak sesuai hukum. Jangan ada pembiaran," katanya.
Ivan menilai September menjadi momentum yang tepat untuk mengubah indikator keberhasilan penanganan Karhutla.
Pemerintah selama ini banyak menggunakan hotspot, luas terbakar, jumlah sortie, volume water bombing dan kegiatan pemadaman sebagai indikator.
Menurutnya, indikator berikutnya harus lebih berorientasi pada hasil.
"Saya ingin kita mulai menghitung berapa hektare yang sudah benar-benar padam, berapa hektare yang telah dibasahi kembali, berapa lokasi yang tidak mengalami kebakaran ulang, dan berapa cepat udara kembali sehat."
Ia merumuskan fase penanganan selanjutnya sebagai:
MOPPING UP → REWETTING → RESTORATION → HEALTH RECOVERY → MONITORING
Menurut Ivan, pendekatan tersebut akan mengubah orientasi dari sekadar menangani bencana menjadi membangun ketahanan daerah.
"Target kita bukan hanya zero hotspot. Target yang lebih penting adalah zero re-ignition, gambut kembali basah, udara kembali sehat dan ekosistem mulai pulih. Kita jangan hanya menghitung apa yang terbakar, tetapi harus menghitung apa yang berhasil kita selamatkan," pungkas Ivan.(*)

Social Header