Berita Terkini

Hotspot Jambi Kembali Melonjak, Tebo-Batanghari-Muaro Jambi Jadi Sorotan, Ivan Wirata Minta Respons Cepat

Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi, Ir. H. Ivan Wirata.(ist)

MAKALAMNEWS.ID - Hotspot di Jambi kembali meningkat pada Minggu, 13 September 2026.

Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi, Ir. H. Ivan Wirata, ST, MM, MT, mengingatkan pemerintah daerah dan seluruh Satgas Karhutla agar tidak lengah.

Berdasarkan laporan situasi Karhutla Provinsi Jambi per pukul 19.00 WIB, tercatat 58 hotspot pada pemantauan pukul 00.00–16.00 WIB. 

Sehari sebelumnya, 12 September, tercatat 7 hotspot. Secara kumulatif sepanjang 2026, jumlah hotspot telah mencapai 7.548 titik.

Sementara itu, estimasi luas lahan terbakar telah mencapai ±2.975,97 hektare, atau semakin mendekati 3.000 hektare.

Ivan menilai perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa penanganan Karhutla tidak dapat bergantung pada penurunan hotspot dalam satu atau dua hari.

"Kemarin hotspot turun, hari ini kembali menjadi 58 titik. Ini menunjukkan situasi bisa berubah sangat cepat. Karena itu jangan lengah dan jangan merasa persoalan selesai hanya karena hotspot sempat turun," kata Ivan, Minggu (13/9/2026).

3 Kabupaten Perlu Respons Cepat

Dari 58 hotspot pada 13 September, Tebo mencatat 19 titik, Batanghari 15 titik, Muaro Jambi 14 titik, Bungo 7 titik, sementara Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, dan Merangin masing-masing satu titik.

Ivan meminta wilayah dengan kenaikan hotspot segera mendapatkan verifikasi lapangan dan penguatan operasi darat.

Menurutnya, ukuran penting yang perlu mulai diterapkan adalah response time, yakni berapa lama waktu yang dibutuhkan sejak hotspot terdeteksi, diverifikasi, hingga personel tiba dan mengendalikan api.

"Target kita harus jelas: hotspot terdeteksi, segera diverifikasi dan kalau memang terjadi kebakaran harus ditangani kurang dari 24 jam. Jangan memberikan kesempatan api kecil berubah menjadi kebakaran besar," ujarnya.

Luas Terbakar Hampir 3.000 Hektare

Ivan memberikan perhatian khusus terhadap luas kebakaran yang sudah mencapai ±2.975,97 hektare.

Batanghari tercatat memiliki estimasi luas terbakar terbesar, yakni 664,24 hektare, disusul Sarolangun 473,64 hektare, Muaro Jambi 325,38 hektare, Tebo 312,46 hektare, dan Tanjung Jabung Barat 292,30 hektare.

Menurut Ivan, data tersebut menunjukkan keberhasilan pengendalian Karhutla tidak cukup diukur dari jumlah hotspot.

"Hotspot harus turun, tetapi luas terbakar juga harus berhenti bertambah. Karena itu indikator kita harus lebih lengkap: hotspot, luas terbakar, kecepatan respons dan apakah terjadi kebakaran ulang di lokasi yang sudah dipadamkan," katanya.

Jangan Selalu Mengandalkan OMC

Ivan kembali menekankan perlunya perubahan paradigma pengendalian Karhutla. 

Menurutnya, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan water bombing tetap penting, tetapi tidak seharusnya menjadi sandaran utama.

Kekuatan utama harus dibangun di darat melalui deteksi dini, kesiapan sumber air, pembasahan gambut, patroli, penguatan Masyarakat Peduli Api (MPA), respons cepat dan pendinginan sampai tuntas.

"Kita jangan selalu mengandalkan OMC dan menunggu hujan untuk menyelesaikan Karhutla. Yang harus diperkuat justru kemampuan di darat: deteksi dini, ketersediaan sumber air, pembasahan gambut, patroli, MPA, respons kurang dari 24 jam, pendinginan hingga tuntas, serta penegakan hukum. OMC dan water bombing adalah penguat ketika kondisi membutuhkan, bukan pengganti pencegahan," tegas Ivan.

Menurutnya, pendekatan yang dibutuhkan Jambi adalah “Ground First — Air Support”. Operasi udara tetap digunakan ketika kondisi membutuhkan, sedangkan kapasitas pencegahan dan respons darat harus tersedia setiap saat.

Kualitas Udara Belum Sehat

Ivan menegaskan, evaluasi Karhutla ke depan harus lebih berorientasi pada hasil.

Bukan semata berapa banyak sortie helikopter, berapa kali OMC dilakukan atau berapa banyak air yang dijatuhkan, tetapi berapa banyak kebakaran yang berhasil dicegah dan seberapa kecil dampak yang ditimbulkan.

"Ukuran keberhasilan kita bukan berapa kali OMC dilakukan atau berapa banyak air dijatuhkan dari udara. Ukurannya adalah berapa banyak kebakaran yang berhasil dicegah, seberapa cepat api ditangani, seberapa kecil luas yang terbakar, dan apakah api tidak muncul kembali," tegas Ivan.

Ia berharap pengalaman Karhutla 2026 menjadi momentum membangun sistem pengendalian yang lebih permanen, sehingga Jambi tidak terus menghadapi pola yang sama setiap musim kemarau.

"Kita harus beralih dari pola reaktif menuju pencegahan permanen. Cegah sebelum api, padamkan sebelum besar, dinginkan sampai tuntas, lalu pulihkan kawasan yang terbakar. Jangan menunggu hujan untuk menyelesaikan persoalan yang sebenarnya bisa kita cegah dari darat," pungkasnya.(min)

© Copyright 2022 - MakalamNews Berita Untuk Anda