Berita Terkini

Ekonomi Jambi Tumbuh Positif, Ivan Wirata Ingatkan Jangan Berhenti di Angka Statistik, Dorong Hilirisasi dan Penguatan Pelabuhan

Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi H Ivan Wirata.(ist)

MAKALAMNEWS.ID - Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi Ir. H. Ivan Wirata, S.T., M.M., M.T. menilai perkembangan ekonomi Jambi sepanjang 2026 menunjukkan capaian yang cukup positif. 

Namun, sejumlah persoalan struktural masih perlu mendapat perhatian serius agar pertumbuhan ekonomi benar-benar berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat.

Ivan mengatakan, sejumlah indikator ekonomi Jambi menunjukkan tren positif. Inflasi masih terkendali, Nilai Tukar Petani (NTP) meningkat, neraca perdagangan tetap mencatat surplus, sementara aktivitas perjalanan wisatawan juga mengalami peningkatan.

Meski demikian, menurutnya, indikator tersebut tidak boleh hanya berhenti sebagai angka statistik. 

Pemerintah harus memastikan pertumbuhan ekonomi diterjemahkan menjadi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

"Indikator yang baik tersebut harus benar-benar diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat, bukan hanya berhenti sebagai angka statistik," ujar Ivan.

Ivan menyoroti angka inflasi Jambi pada Agustus 2026 yang mencapai 0,38 persen secara bulanan dan 3,60 persen secara tahunan.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena sekitar 92 persen tekanan inflasi bulanan berasal dari kelompok pangan. 

Daging ayam ras menjadi salah satu penyumbang terbesar akibat meningkatnya permintaan masyarakat, kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta kenaikan harga pakan.

Karena itu, pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) diminta memastikan pelaksanaan program nasional tidak justru menambah tekanan harga di tingkat masyarakat.

Ivan mendorong agar pengadaan bahan pangan untuk kebutuhan program pemerintah direncanakan secara matang dengan melibatkan peternak lokal.

"Pengadaan bahan pangan harus direncanakan dengan baik serta melibatkan peternak lokal melalui kontrak pembelian yang adil," katanya.

Peternak Jangan Sampai Tertekan

Di sisi lain, Ivan menilai kenaikan harga ayam di tingkat konsumen belum sepenuhnya mencerminkan peningkatan kesejahteraan peternak.

Hal itu terlihat dari NTP subsektor peternakan yang masih berada di angka 98,73 atau di bawah batas 100.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu ditelusuri secara lebih mendalam. Jangan sampai kenaikan harga yang dibayar konsumen tidak diikuti peningkatan pendapatan peternak akibat tingginya biaya pakan dan panjangnya rantai distribusi.

DPRD Provinsi Jambi, kata Ivan, akan mendorong pemerintah membuka struktur harga komoditas dari tingkat peternak hingga konsumen.

Langkah tersebut dinilai penting agar peningkatan permintaan dan harga komoditas memberikan manfaat yang lebih adil bagi para produsen.

NTP Jambi Tertinggi Ketiga di Sumatra

Ivan juga mengapresiasi capaian NTP Jambi yang mencapai 193,63 dan menempatkan Provinsi Jambi pada posisi ketiga tertinggi di Sumatra.

Namun, Ivan mengingatkan bahwa tingginya NTP tersebut terutama ditopang oleh subsektor perkebunan rakyat.

Sementara itu, peternak, nelayan, pembudidaya ikan, dan petani hortikultura belum tentu menikmati kondisi ekonomi yang sama.

"Karena itu, pemerintah tidak boleh hanya menggunakan NTP gabungan sebagai ukuran keberhasilan. Evaluasi harus dilakukan per subsektor dan dikaitkan dengan pendapatan riil, biaya produksi, produktivitas, serta tingkat kemiskinan perdesaan," tegasnya.

Dorong Hilirisasi Komoditas

Dari sektor perdagangan, Jambi masih mencatat surplus sebesar US$1,127 miliar. Namun, Ivan mencermati nilai ekspor mengalami penurunan 2,22 persen, sementara surplus perdagangan turun sekitar 5,63 persen.

Lebih jauh, sekitar 74,4 persen ekspor Jambi masih bergantung pada bahan bakar mineral, karet, serta minyak dan lemak nabati.

Menurut Ivan, kondisi tersebut menunjukkan perlunya percepatan hilirisasi agar Jambi tidak terus bergantung pada ekspor bahan mentah.

"Hilirisasi sawit, karet, dan sumber daya alam lainnya harus dipercepat agar nilai tambah, lapangan kerja, serta penerimaan daerah lebih banyak tercipta di Jambi," ujarnya.

Ivan juga menyoroti persoalan konektivitas perdagangan Jambi. Sebanyak 57,58 persen komoditas asal Jambi masih diekspor melalui pelabuhan di luar provinsi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa infrastruktur logistik Jambi masih perlu diperkuat, mulai dari konektivitas jalan, kapasitas pelabuhan, pergudangan, kedalaman alur hingga layanan pelayaran.

Ia menilai pengembangan Pelabuhan Talang Duku, Muara Sabak, Kuala Tungkal, dan Nipah Panjang harus menjadi bagian dari peta jalan pembangunan logistik Jambi.

Dengan penguatan konektivitas tersebut, komoditas dari Jambi diharapkan dapat diproses, disimpan, dan didistribusikan dengan lebih efisien sehingga biaya logistik dapat ditekan dan daya saing produk meningkat.

Pada sektor pariwisata, Ivan melihat adanya peningkatan jumlah tamu hotel. Namun, tingkat penghunian kamar justru turun menjadi 52,59 persen, sedangkan rata-rata lama menginap hanya 1,58 malam.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan peningkatan perjalanan wisata belum memberikan dampak ekonomi yang optimal bagi daerah.

Karena itu, strategi pariwisata Jambi harus diarahkan untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan menjadi dua hingga tiga malam.

Upaya tersebut dapat dilakukan melalui penguatan kalender acara, kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE), paket wisata lintas destinasi, wisata budaya, kuliner, serta pemberdayaan pelaku UMKM.

Ivan menegaskan DPRD Provinsi Jambi akan mengarahkan fungsi pengawasan dan penganggaran pada empat agenda utama.

Pertama, menjaga stabilitas harga pangan secara adil. Kedua, melindungi petani dan produsen. Ketiga, mempercepat hilirisasi serta memperkuat infrastruktur pelabuhan. Keempat, meningkatkan lama tinggal dan belanja wisatawan.

"Bagi kami, keberhasilan pembangunan ekonomi bukan hanya ditunjukkan oleh surplus perdagangan atau tingginya NTP," kata Ivan.

Menurutnya, ukuran keberhasilan pembangunan ekonomi harus dilihat dari sejauh mana masyarakat merasakan manfaat pertumbuhan tersebut.

"Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika harga pangan tetap terjangkau, petani dan peternak memperoleh margin yang adil, komoditas diolah di Jambi, lapangan kerja bertambah, dan manfaat pertumbuhan ekonomi dirasakan secara merata oleh masyarakat," pungkasnya.(min)

© Copyright 2022 - MakalamNews Berita Untuk Anda