MAKALAMNEWS.ID - Situasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) Provinsi Jambi kembali menunjukkan perkembangan yang perlu mendapat perhatian.
Berdasarkan Laporan Situasi Karhutla Provinsi Jambi per 29 September 2026 hingga pukul 19.00 WIB, estimasi luas lahan terbakar telah mencapai ±4.123,84 hektare, dengan hotspot kumulatif 2026 sebanyak 10.742 titik.
Laporan tersebut juga mencatat 177 hotspot pada periode pengamatan yang ditampilkan sebagai kondisi hari ini, sementara 86 kasus Karhutla tercatat dalam penanganan penegakan hukum.
Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi Ir. H. Ivan Wirata menilai, laporan terbaru perlu dibaca sebagai peringatan untuk memperkuat operasi lapangan sekaligus perlindungan kesehatan masyarakat.
"Yang harus kita lihat sekarang bukan hanya berapa hotspot yang muncul. Luas terbakar sudah menembus 4.123 hektare, kualitas udara memburuk, dan terdapat perubahan luasan yang sangat besar di Tanjung Jabung Timur. Semua itu harus segera diterjemahkan menjadi tindakan operasional berbasis data," katanya.
Tanjab Timur Bertambah 387,48 Hektare
Perubahan paling mencolok terdapat di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Pada laporan 27 September, estimasi luas terbakar di daerah tersebut tercatat 271,70 hektare. Dalam laporan 29 September angkanya menjadi 659,18 hektare.
Dengan demikian, terdapat perubahan sebesar: +387,48 hektare atau sekitar +142,6 persen.
Angka tersebut setara sekitar 94,8 persen dari total kenaikan estimasi luas terbakar Jambi sebesar 408,58 hektare antara laporan 27 dan 29 September.
Ivan menegaskan perubahan angka tersebut tidak boleh otomatis dinyatakan seluruhnya sebagai kebakaran baru.
"Saya meminta dilakukan verifikasi burn scar. Kita harus mengetahui apakah perubahan 387,48 hektare itu berasal dari kebakaran baru, perluasan kejadian lama, re-ignition atau pemutakhiran hasil pemetaan. Jangan membuat kesimpulan sebelum koordinat dan burn scar-nya diverifikasi," katanya.
Overlay dengan Kawasan TNBS
Perkembangan Tanjung Jabung Timur juga dinilai penting karena kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS) sedang menghadapi Karhutla.
Satgas pada 28 September menyatakan kebakaran di kawasan tersebut belum sepenuhnya padam.
Pemadaman menghadapi kendala gambut dalam dan sulitnya akses alat serta personel, sementara sumber air tersedia tetapi akses menuju sumber air masih menjadi tantangan.
Ivan Wirata meminta agar perubahan luas terbakar Tanjab Timur segera di-overlay dengan batas TNBS.
"Jangan langsung mengatakan tambahan 387,48 hektare itu semuanya berada di TNBS karena laporan ini tidak menyatakan demikian. Yang harus dilakukan adalah overlay hotspot, fire spot, burn scar, batas TNBS, hutan primer, gambut dan sumber air. Setelah itu baru kita tahu posisi sebenarnya," katanya.
Menurut Ivan, apabila fire front berada dekat kawasan hutan primer, operasi harus sekaligus diarahkan pada perlindungan habitat dan pencegahan api memasuki kawasan inti.
Muaro Jambi ISPU 300, Kota Jambi 229
Selain perkembangan api, kualitas udara menjadi perhatian.
Laporan 29 September pukul 08.00 WIB mencatat ISPU Muaro Jambi 300 dan Kota Jambi 229, keduanya berada pada kategori Sangat Tidak Sehat.
Tebo tercatat 153 dan Tanjung Jabung Timur 143, keduanya berada pada kategori Tidak Sehat.
Ivan mengatakan kondisi tersebut menunjukkan penanganan Karhutla harus dijalankan melalui tiga operasi sekaligus:
"Kalau api dipadamkan tetapi masyarakat tetap menghirup udara sangat tidak sehat, pekerjaan kita belum selesai. Pemadaman, pengendalian asap dan perlindungan kesehatan harus berjalan dalam satu sistem," ujarnya.
Pemerintah Provinsi Jambi sebelumnya juga telah menyatakan bahwa dampak Karhutla tidak hanya menyangkut kerusakan lingkungan, tetapi telah memengaruhi kualitas udara dan kesehatan masyarakat.
Data ISPA Perlu Direkonsiliasi
Laporan mencantumkan 7.236 kasus ISPA pada Minggu ke-37.
Namun, pada bagian yang sama terdapat catatan bahwa jumlah berdasarkan rincian kabupaten/kota adalah 7.256 kasus, sehingga terdapat selisih 20 kasus yang masih perlu diverifikasi.
Ivan meminta rekonsiliasi data dilakukan bersama Dinas Kesehatan dan pengelola SKDR.
"Kalau rincian menghasilkan 7.256 tetapi total yang dilaporkan 7.236, selisih 20 kasus harus diselesaikan. Prinsipnya sederhana: satu data sebelum angka digunakan untuk pengambilan keputusan," katanya.
Ia juga mengingatkan agar jumlah kasus ISPA tersebut tidak otomatis seluruhnya dinyatakan sebagai akibat karhutla, karena laporan yang ditampilkan merupakan rekap kasus dan tidak membuktikan hubungan sebab-akibat untuk setiap kasus.
Tiga Helikopter Water Bombing Maintenance
Hal lain yang menjadi perhatian adalah kesiapan operasi udara.
Dalam laporan 29 September, tiga helikopter water bombing yang dicantumkan—RA-22840, N-224TH dan VN-8414 berstatus unserviceable/maintenance.
Pesawat patroli dan helikopter patroli tetap menjalankan fungsi patroli, sedangkan Super Puma H3216 tercatat tidak terbang tetapi serviceable.
Ivan meminta satgas dan instansi terkait memastikan skenario dukungan udara ketika armada utama menjalani perawatan.
"Yang perlu diketahui adalah berapa kekuatan water bombing yang benar-benar siap terbang, kapan armada selesai maintenance, dan apakah tersedia backup ketika kondisi meningkat. Tetapi kita juga tidak boleh menyimpulkan bahwa maintenance helikopter menyebabkan bertambahnya luas kebakaran. Hubungan itu tidak dibuktikan oleh laporan," ujarnya.
Sehari sebelumnya, satgas menyatakan pemadaman udara masih menjadi salah satu instrumen penting untuk kawasan TNBS karena akses darat dan gambut dalam membatasi pergerakan personel dan alat.
Ground First–Air Support Tetap Jadi Fondasi
Menurut Ivan, kondisi tersebut justru memperkuat kebutuhan membangun kapasitas permanen di darat.
:Jambi tidak boleh bergantung sepenuhnya pada helikopter. Air support sangat penting, tetapi fondasinya tetap ground force: deteksi dini, MPA, sumber air, embung, pompa, akses pemadaman, ground attack, containment dan mop-up sampai tuntas," katanya.
Karakter gambut membuat pendinginan menjadi sangat penting. Balai TN Berbak dan Sembilang sebelumnya menjelaskan bara di lapisan dalam dapat bertahan meski api permukaan tidak terlihat, sehingga pendinginan perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Batanghari Tetap Terbesar
Walaupun lonjakan terbaru terjadi di Tanjab Timur, Batanghari masih menjadi kabupaten dengan estimasi luas terbakar kumulatif terbesar, yakni 1.240,79 hektare.
Disusul Tanjung Jabung Timur 659,18 hektare, Tanjab Barat 639,55 hektare, Muaro Jambi 577,71 hektare, Sarolangun 508,55 hektare, dan Tebo 403,76 hektare.
Karena karakter masalah setiap wilayah berbeda, Ivan mendorong respons yang berbeda pula.
Untuk Tanjung Jabung Timur, fokusnya adalah verifikasi–attack–containment serta perlindungan TNBS.
Untuk Muaro Jambi, fokusnya adalah fire response–smoke response–health protection.
Sedangkan Batanghari perlu mempertahankan containment dan melakukan mop-up untuk mencegah kebakaran ulang.(min)

Social Header