MAKALAMNEWS.ID - Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia atau MTI Wilayah Provinsi Jambi, Ir. H. Ivan Wirata, ST, MM, MT, mendorong rencana pembukaan koridor laut Marunda–Kuala Jambi sebagai langkah strategis untuk memperkuat konektivitas logistik dan mempercepat pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi.
Menurut Ivan Wirata, gagasan ini bukan sekadar membuka rute pelayaran baru, tetapi merupakan bagian dari transformasi besar sistem logistik Jambi, khususnya dalam menjadikan Kuala Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, sebagai simpul logistik pesisir timur Sumatra.
"Koridor laut Marunda–Kuala Jambi harus dilihat sebagai pintu baru ekonomi Jambi. Ini bukan hanya soal kapal berlayar, tetapi soal bagaimana kita menurunkan biaya logistik, mengurangi beban jalan, membuka investasi, dan menciptakan pusat pertumbuhan baru di kawasan pesisir timur Jambi," katanya.
Ivan Wirata menjelaskan, selama ini distribusi barang dari Jawa menuju Sumatra dan Jambi masih sangat bergantung pada lintasan darat melalui Merak–Bakauheni dan Jalan Lintas Sumatra.
Akibatnya, beban kendaraan berat, kemacetan, kerusakan jalan, serta biaya logistik menjadi persoalan berulang.
Berdasarkan bahan kajian yang disusun, jumlah kendaraan pada lintasan Merak–Bakauheni diproyeksikan mencapai 3.063.191 unit pada 2025, dengan kendaraan truk sekitar 1.153.269 unit.
Jika 30 persen truk dapat dialihkan ke jalur laut, maka terdapat potensi pengalihan sekitar 345.981 truk dari tekanan lintasan darat.
Ivan menilai, pengalihan sebagian muatan besar ke jalur laut akan memberi manfaat besar bagi Jambi.
Dampaknya antara lain menurunkan biaya distribusi, mengurangi kemacetan, memperkecil kerusakan jalan akibat kendaraan berat, serta membuka peluang investasi pada sektor pelabuhan, pergudangan, cold storage, depo logistik, jasa transportasi, UMKM, dan kawasan industri pesisir.
"Keunggulan jalur laut ini bukan semata-mata soal waktu tempuh, tetapi soal alih beban. Muatan besar yang selama ini menekan jalan raya bisa dipindahkan ke laut. Dengan begitu, jalan lebih terjaga, arus barang lebih tertata, dan ekonomi daerah bergerak lebih efisien," katanya.
Dalam kajian tersebut juga dibandingkan sejumlah rute logistik. Rute eksisting Jambi–Bakauheni–Merak–Gerbang Tol tercatat sekitar 772,15 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 29 jam 30 menit.
Sementara alternatif Kuala Jambi–Marunda berjarak sekitar 538 mil dengan waktu tempuh kurang lebih 38 jam, dan alternatif Kuala Jambi–Tanjung Kalian–Marunda sekitar 465 mil dengan waktu tempuh kurang lebih 35 jam.
Meski waktu tempuh laut relatif lebih panjang, Ivan menekankan bahwa manfaat strategisnya jauh lebih luas karena mampu membuka kapasitas baru sistem logistik Jambi.
"Kita jangan melihatnya hanya dari hitungan jam perjalanan. Kita harus melihat multiplier effect-nya: pelabuhan hidup, gudang tumbuh, tenaga kerja terserap, UMKM bergerak, perikanan punya cold chain, dan Tanjung Jabung Timur bisa naik kelas menjadi kawasan ekonomi pesisir," tegasnya.
Sebagai Ketua MTI Wilayah Provinsi Jambi, Ivan mendorong agar rencana ini segera ditindaklanjuti melalui kajian teknis yang komprehensif, meliputi survei alur pelayaran, kebutuhan dermaga, terminal Ro-Ro, kesiapan jalan akses Kuala Jambi–Muara Sabak–Kota Jambi, skema pembiayaan, serta kajian dampak ekonomi dan lingkungan.
Ia juga menilai proyek ini perlu didorong masuk dalam perencanaan pembangunan daerah, baik melalui RPJMD, RKPD, maupun skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha atau KPBU.
"APBD tentu tidak bisa menanggung seluruh kebutuhan investasi. Karena itu, kita perlu creative financing, KPBU, dukungan pemerintah pusat, serta kolaborasi dengan pelaku pelayaran, operator pelabuhan, perbankan, dan investor," ujarnya.
Ivan menyebut, agar koridor Marunda–Kuala Jambi benar-benar berhasil, pembangunan tidak boleh hanya berhenti pada dermaga.
Yang dibangun harus berupa ekosistem logistik terpadu, mulai dari pelabuhan, jalan akses, gudang, terminal truk, cold storage, depo kontainer, sistem digital logistik, hingga kawasan UMKM penunjang pelabuhan.
"Kalau hanya membangun dermaga, dampaknya terbatas. Tetapi kalau kita bangun ekosistemnya, maka Kuala Jambi bisa menjadi simpul ekonomi baru. Inilah momentum bagi Jambi untuk tidak lagi hanya menjadi daerah lintasan, tetapi menjadi pusat distribusi dan pertumbuhan," katanya.
Ivan berharap pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jambi, Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Kementerian Perhubungan, Bappenas, Pelindo, ASDP, dan dunia usaha dapat duduk bersama untuk mempercepat kajian dan pilot project koridor laut Marunda–Kuala Jambi.
"MTI Jambi siap memberikan masukan teknis dan menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong konektivitas transportasi yang efisien, aman, dan berdampak langsung bagi masyarakat," pungkas Ivan Wirata.(min)

Social Header