MAKALAMNEWS.ID - Pemerintah Provinsi Jambi bersama 11 pemerintah kabupaten/kota memperoleh penyaluran kurang bayar sampai dengan Tahun Anggaran 2024 sebesar Rp598,292 miliar berdasarkan data dalam Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 198 Tahun 2026.
Namun, angka tersebut perlu dibaca secara cermat. Berdasarkan tabel KMK yang memuat Provinsi Jambi dan seluruh kabupaten/kotanya, tidak terdapat Tambahan DAU Tahun Anggaran 2026 untuk daerah-daerah di Jambi.
Seluruh nilai yang tercantum bagi Jambi berada pada kolom Penyaluran Kurang Bayar s.d. TA 2024. Rekapitulasi Tambahan DAU & Penyaluran KB sd 2024.
Dari total sekitar Rp598,29 miliar tersebut, Pemerintah Provinsi Jambi memperoleh Rp45,704 miliar, sedangkan secara kumulatif 11 kabupaten/kota memperoleh sekitar Rp552,59 miliar. Rekapitulasi Tambahan DAU & Penyaluran KB sd 2024.
Batang Hari Terbesar, Kota Jambi Terendah
Distribusi kurang bayar tersebut menunjukkan perbedaan cukup lebar antardaerah. Kabupaten Batang Hari menjadi penerima terbesar dengan Rp179,985 miliar, disusul Sarolangun Rp77,499 miliar.
Merangin Rp51,186 miliar, Bungo Rp49,846 miliar dan Kota Sungai Penuh Rp46,929 miliar. Rekapitulasi Tambahan DAU & Penyaluran KB sd 2024.
Selanjutnya Pemprov Jambi memperoleh Rp45,704 miliar, Kerinci Rp41,144 miliar, Muaro Jambi Rp33,195 miliar, Tanjung Jabung Barat Rp30,264 miliar, Tanjung Jabung Timur Rp22,258 miliar, Tebo Rp11,662 miliar, dan Kota Jambi Rp8,621 miliar. Rekapitulasi Tambahan DAU & Penyaluran KB sd 2024.
Dengan demikian, Batang Hari sendiri memperoleh sekitar 30 persen dari keseluruhan nilai untuk Jambi, sedangkan Batang Hari dan Sarolangun jika digabung menguasai sekitar 43 persen.
Menurut Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi Ivan Wirata, hal yang dinilai penting adalah memastikan angka hampir Rp600 miliar tersebut tidak dikomunikasikan kepada masyarakat sebagai Tambahan DAU 2026.
Dokumen justru menunjukkan kolom Tambahan DAU TA 2026 untuk Pemprov Jambi maupun seluruh 11 kabupaten/kota bernilai nihil, sementara penerimaan berasal dari penyaluran kurang bayar sampai dengan TA 2024. Rekapitulasi Tambahan DAU & Penyaluran KB sd 2024.pdf
Dalam kerangka regulasi transfer ke daerah, kurang bayar DBH merupakan mekanisme penyelesaian hak daerah dari periode sebelumnya.
Regulasi Kementerian Keuangan juga menegaskan penyaluran kurang bayar DBH mempertimbangkan kemampuan keuangan negara.
Karena itu, pemerintah daerah perlu melakukan rekonsiliasi terlebih dahulu untuk memastikan asal komponen kurang bayar, tahun pengakuannya, posisi pencatatan pada laporan keuangan, serta konsekuensinya terhadap APBD.
Menurut Ivan, bagi Pemprov Jambi, masuknya Rp45,704 miliar tentu penting bagi likuiditas daerah. Namun nilai tersebut tidak serta-merta dapat dipersepsikan seluruhnya sebagai ruang fiskal baru.
Perlu dipastikan apakah hak tersebut sebelumnya sudah dicatat sebagai piutang atau pendapatan dalam laporan keuangan pemerintah daerah.
Rekonsiliasi menjadi penting agar tidak terjadi salah pengakuan maupun double counting.
Karena itu, DPRD dapat meminta TAPD dan BKAD menjelaskan secara terperinci sumber kurang bayar, tahun asal, status pengakuan akuntansi, mekanisme penyaluran, serta ruang fiskal riil yang akhirnya tersedia bagi Pemprov Jambi.
Perspektif pembangunan juga tidak semestinya berhenti pada Rp45,7 miliar yang diterima pemerintah provinsi.
Secara regional terdapat Rp598,29 miliar yang tersebar di Pemprov serta 11 kabupaten/kota. Jika dikelola dan dibelanjakan secara efektif sesuai ketentuan, dana tersebut berpotensi memperkuat aktivitas ekonomi daerah.
Efeknya dapat bergerak melalui pembayaran kewajiban pemerintah, belanja barang dan jasa, pekerjaan pembangunan, aktivitas kontraktor dan UMKM, penyerapan tenaga kerja hingga konsumsi masyarakat.
Namun, kata Ivan Wirata, besarnya dampak terhadap pertumbuhan ekonomi belum dapat disimpulkan hanya berdasarkan KMK tersebut karena bergantung pada karakter dan realisasi penggunaan dana.
Kondisi fiskal Jambi sendiri perlu terus diperkuat. Data Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Jambi menunjukkan aktivitas pembiayaan sektor riil masih cukup kuat; misalnya hingga 31 Mei 2026 penyaluran KUR di Jambi mencapai Rp3,416 triliun kepada 35.744 debitur.
DPRD Dorong Konsolidasi
Ivan Wirata menilai, momentum tersebut perlu ditempatkan dalam perspektif pembangunan Jambi secara menyeluruh.
Menurutnya, pemerintah provinsi tidak cukup hanya melihat penerimaan Rp45,7 miliar pada APBD provinsi, tetapi perlu melihat bagaimana hampir Rp600 miliar yang masuk ke seluruh pemerintah daerah di Jambi dapat memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
"Yang harus kita pastikan bukan hanya berapa uang yang masuk, tetapi dari mana kurang bayar itu berasal, bagaimana pencatatannya, berapa ruang fiskal riil yang tercipta, dan bagaimana dana hampir Rp600 miliar di seluruh Jambi dapat memberikan daya ungkit bagi pelayanan publik dan ekonomi daerah," ujar Ivan.
Ia mendorong adanya rekonsiliasi dan konsolidasi fiskal Pemprov bersama 11 kabupaten/kota, tanpa mengambil alih kewenangan masing-masing pemerintah daerah.
Konsolidasi tersebut diperlukan untuk memetakan penggunaan dana sehingga, sepanjang diperbolehkan ketentuan transfer terkait, belanja daerah dapat bersinergi dengan prioritas pembangunan Jambi.
Momentum Perkuat KUA-PPAS dan APBD 2027
Penyaluran kurang bayar ini juga dinilai relevan menjadi bahan evaluasi dalam pembahasan KUA-PPAS dan APBD 2027.
Setidaknya terdapat lima agenda yang perlu dikawal: rekonsiliasi sumber dan tahun kurang bayar; pemeriksaan pencatatan sebelumnya; penghitungan ruang fiskal riil; pemetaan penerimaan Pemprov dan 11 kabupaten/kota; serta sinkronisasi belanja dengan RKPD dan RPJMD sesuai ketentuan.
Dengan pendekatan tersebut, tambahan likuiditas daerah tidak sekadar memperbesar angka APBD, tetapi dapat diarahkan untuk memperkuat pelayanan dasar dan belanja pembangunan yang produktif.
"Prinsipnya, setiap rupiah yang menjadi hak daerah harus dipastikan akuntabel dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Jambi membutuhkan belanja yang bukan hanya terserap, tetapi benar-benar menghasilkan dampak pembangunan," kata Ivan.
Dengan total penyaluran sekitar Rp598,29 miliar, momentum ini dapat menjadi kesempatan bagi Pemprov dan 11 kabupaten/kota untuk memperkuat konsolidasi fiskal: uang masuk harus terukur asalnya, benar pencatatannya, tepat penggunaannya, dan nyata dampaknya bagi masyarakat Jambi. Rekapitulasi Tambahan DAU & Penyaluran KB sd 2024.(*)

Social Header