Berita Terkini

6,8 Ton Arang Batok Kelapa Hasil Pembinaan Warga Binaan Lapas Narkotika Muara Sabak Tembus Pasar Ekspor

Arang batok kelapa hasil pengolahan di lingkungan Lapas dilepas untuk pasar ekspor.(ist)

MAKALAMNEWS.ID – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIB Muara Sabak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Provinsi Jambi, mencatat langkah baru dalam program pembinaan kemandirian warga binaan. 

Untuk pertama kalinya, produk arang batok kelapa hasil pengolahan di lingkungan Lapas dilepas untuk pasar ekspor.

Ekspor perdana tersebut dilepas secara simbolis oleh Kalapas Narkotika Kelas IIB Muara Sabak, Muhammad Askari Utomo, didampingi Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Binaker) Hendra Turnip serta sejumlah petugas lapas lainnya.

Pada tahap perdana, sebanyak 6,8 ton arang batok kelapa dikirim sebagai bagian dari upaya membuka pasar internasional bagi produk hasil pembinaan warga binaan.

Kalapas Muhammad Askari Utomo mengatakan, usaha pengolahan arang batok kelapa tersebut baru dirintis dengan memanfaatkan potensi lokal sekaligus memberdayakan warga binaan.

"Usaha ini baru saja kita rintis, memanfaatkan pekarangan Lapas dan memberdayakan warga binaan di sana," katanya, Senin (24/8/2026).

Menariknya, skema usaha yang diterapkan Lapas Narkotika Muara Sabak tidak membutuhkan modal besar untuk membeli bahan baku. 

Pihak lapas justru membangun usaha tersebut dengan mengandalkan kepercayaan dari masyarakat dan pelaku usaha sekitar.

Masyarakat atau pemilik tempurung kelapa dapat mengantarkan bahan baku ke Lapas untuk diolah. 

Pihak lapas tidak membeli tempurung tersebut di awal, melainkan hanya mengambil upah jasa pembakaran sebesar Rp500 per kilogram.

Setelah tempurung selesai dibakar dan diolah menjadi arang, produk tersebut kemudian dijemput oleh pembeli. 

Setelah proses penjualan atau pengambilan selesai, barulah pembayaran dilakukan sesuai kesepakatan.

Dengan pola tersebut, Lapas Narkotika Muara Sabak berperan sebagai tempat pengolahan sekaligus memberikan jasa pembakaran, sementara bahan baku berasal dari masyarakat dan pembeli telah memiliki kebutuhan pasar.

"Jadi kami tidak membeli tempurungnya terlebih dahulu. Masyarakat menitipkan tempurung kepada kami dengan modal kepercayaan. Kami hanya mengambil upah membakar, Rp500 per kilogram. Setelah selesai dibakar, kemudian dijemput pembeli, baru dilakukan pembayaran,: jelas Askari.

Skema sederhana tersebut menjadi salah satu kekuatan program karena memungkinkan usaha berjalan tanpa harus menyediakan modal besar untuk membeli bahan baku. 

Pada saat yang sama, masyarakat mendapatkan solusi untuk memanfaatkan tempurung kelapa yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah.

Menurut Askari, gagasan tersebut berawal dari pemetaan potensi Kabupaten Tanjab Timur yang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kelapa terbesar di Provinsi Jambi. 

Besarnya potensi tersebut kemudian mendorong pihak Lapas membuka peluang kerja sama dengan masyarakat dan pelaku usaha kelapa.

Meski baru dikembangkan kurang dari satu bulan, kegiatan tersebut telah menghasilkan produksi arang dalam jumlah yang cukup signifikan. 

Dari proses tersebut, warga binaan mendapatkan kesempatan untuk terlibat langsung dalam kegiatan produktif sekaligus mempelajari keterampilan pengolahan arang.

Askari mengatakan, produk yang dihasilkan juga telah memiliki tujuan pasar yang jelas. 

Produksi akan terus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pengiriman ke sejumlah negara, termasuk kawasan Asia Selatan, Arab Saudi dan China.

"Tidak tanggung-tanggung usaha ini. Kita sudah mendapatkan pasarnya dan nantinya kita ekspor ke luar negeri," ujarnya.

Ia menegaskan, program tersebut bukan semata-mata mengejar keuntungan, tetapi menjadi bagian dari pembinaan kemandirian warga binaan. 

Mereka dilibatkan dalam proses kerja dan mendapatkan premi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal bagi warga binaan ketika nantinya kembali ke tengah masyarakat.

"Yang kita harapkan, mereka mendapatkan pengalaman dan keterampilan. Ketika bebas nanti, mereka sudah punya kemampuan yang bisa dikembangkan dan menjadi bekal untuk mencari penghasilan," kata Askari.

Karena itu, pihak Lapas mengajak masyarakat, petani kelapa dan pelaku usaha yang memiliki tempurung kelapa untuk menjalin kerja sama. 

Tempurung yang selama ini belum termanfaatkan dapat dititipkan untuk diolah sehingga memiliki nilai ekonomi. 

Pihak Lapas juga membuka peluang pengembangan usaha menuju produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi, termasuk arang karbon aktif.

Dukungan terhadap program tersebut disampaikan Wakil Bupati Tanjab Timur Muslimin Tanja. 

Ia menilai langkah Lapas Narkotika Muara Sabak menunjukkan kejelian dalam melihat potensi daerah dan mengubahnya menjadi kegiatan produktif.

"Kami pemerintah mendukung dan mendorong kegiatan positif ini. Kami siap berkolaborasi dengan lapas. Jika pemerintah dibutuhkan, kami akan hadir untuk itu," kata Muslimin.

Menurutnya, program tersebut berpotensi memberikan manfaat ganda. Selain menjadi bagian dari pembinaan warga binaan, kegiatan ini juga dapat menciptakan nilai tambah terhadap komoditas kelapa yang menjadi salah satu potensi ekonomi masyarakat Tanjab Timur.

Muslimin bahkan mendorong agar pengembangan usaha ke depan tidak berhenti pada arang batok kelapa. 

Berbagai produk turunan kelapa lainnya juga dinilai dapat dikembangkan, termasuk pemanfaatan ijuk kelapa yang selama ini belum optimal dimanfaatkan masyarakat.

"Saya mengapresiasi apa yang sudah dilakukan Kalapas. Melihat potensi lokal dan kemudian melibatkan warga binaan dalam melahirkan inovasi seperti ini merupakan langkah yang luar biasa," ujarnya.

Ekspor perdana enam ton arang batok kelapa tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa pembinaan di dalam lapas dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif yang terhubung langsung dengan kebutuhan pasar.

Lebih dari sekadar menghasilkan arang, program ini mempertemukan potensi daerah, kepercayaan masyarakat, keterampilan warga binaan dan peluang pasar ekspor dalam satu mata rantai usaha. 

Dari tempurung kelapa yang sebelumnya dianggap limbah, lahir peluang ekonomi sekaligus bekal kemandirian bagi warga binaan.(min)

© Copyright 2022 - MakalamNews Berita Untuk Anda