PIALA Dunia 2026 membuktikan bahwa TVRI sebagai lembaga penyiaran publik tidak hanya menghadirkan tontonan berkualitas, tetapi juga mampu membangun ruang kebersamaan masyarakat, menggerakkan ekonomi lokal, dan memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan warga.
Piala Dunia FIFA 2026 kembali membuktikan dirinya sebagai peristiwa olahraga terbesar di dunia.
Miliaran pasang mata tertuju pada setiap pertandingan yang menghadirkan drama, kejutan, rivalitas, hingga kisah-kisah heroik yang menyatukan emosi para pencinta sepak bola lintas negara.
Kini, ketika turnamen memasuki babak perempat final, atmosfer kompetisi semakin memanas.
Suasana itulah yang saya rasakan ketika baru saja mengikuti kegiatan nonton bareng (nobar) pertandingan Inggris melawan Norwegia di kawasan Tugu Keris Siginjai, Kota Jambi, malam hingga dini hari tadi.
masyarakat sangat antusias dan memadati Lokasi, sorak sorai menggema setiap kali peluang tercipta.
Anak-anak mengenakan jersey tim favoritnya, para orang tua menikmati pertandingan bersama keluarga, sementara para pedagang sibuk melayani pembeli yang terus berdatangan.
Sepak bola bukan sekadar pertandingan selama sembilan puluh menit, melainkan sebuah ruang kebersamaan yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam suasana penuh kegembiraan.
Yang menarik, seluruh kemeriahan tersebut tersaji melalui siaran langsung TVRI yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Jambi.
Di balik layar besar yang menjadi pusat perhatian ribuan penonton, sesungguhnya terdapat kerja panjang yang sering kali luput dari perhatian publik.
Pesta sepak bola dunia yang dapat dinikmati secara gratis oleh masyarakat Indonesia bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja.
Ada perencanaan, kolaborasi, kesiapan infrastruktur, serta komitmen pelayanan publik yang telah dipersiapkan jauh sebelum peluit pertama Piala Dunia dibunyikan.
Sebagai official broadcaster Piala Dunia FIFA 2026 di Indonesia, TVRI mengemban tanggung jawab yang tidak ringan.
Di tengah perubahan lanskap media yang semakin kompetitif, TVRI menunjukkan bahwa lembaga penyiaran publik masih memiliki posisi strategis dalam memastikan masyarakat memperoleh akses terhadap informasi dan hiburan yang berkualitas tanpa hambatan ekonomi.
Piala Dunia tidak boleh hanya menjadi tontonan bagi mereka yang memiliki akses terhadap televisi berbayar atau layanan digital tertentu.
Sebaliknya, pesta olahraga terbesar di dunia harus dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia, dari kota besar hingga pelosok daerah.
Kesadaran tersebut tercermin dari berbagai langkah yang dilakukan TVRI jauh sebelum turnamen dimulai.
Melalui berbagai kegiatan promosi bertajuk "Bola Gembira", TVRI hadir di berbagai ruang publik, termasuk kegiatan car free day, untuk membangun antusiasme masyarakat sekaligus memberikan edukasi mengenai siaran televisi digital.
Bersama pemerintah daerah di berbagai wilayah, TVRI juga aktif melakukan sosialisasi pemasangan antena digital dan set top box agar masyarakat telah siap menikmati seluruh pertandingan ketika Piala Dunia dimulai.
Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa pelayanan publik dalam bidang penyiaran tidak hanya diukur dari kualitas gambar saat pertandingan berlangsung, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat memperoleh akses yang merata terhadap siaran tersebut.
Dalam perspektif pelayanan publik, akses terhadap informasi dan hiburan yang berkualitas merupakan bagian dari upaya memperkuat inklusi sosial, sehingga tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal hanya karena keterbatasan akses teknologi.
Di Provinsi Jambi, semangat pelayanan tersebut terlihat sangat nyata. Di bawah koordinasi Kepala Stasiun TVRI Jambi, berbagai kegiatan sosialisasi dilakukan secara intensif melalui kunjungan ke kabupaten dan kota, membangun komunikasi dengan pemerintah daerah, serta menginisiasi kerja sama penyelenggaraan nonton bareng di berbagai lokasi.
TVRI Jambi tidak hanya bekerja di balik meja atau studio penyiaran, tetapi hadir langsung di tengah masyarakat untuk memastikan bahwa kemeriahan Piala Dunia benar-benar dapat dirasakan oleh warga di seluruh penjuru daerah.
Kolaborasi yang dibangun juga melibatkan berbagai hotel, kafe, restoran, ruang publik, komunitas, serta pemerintah daerah.
Hampir setiap malam pertandingan, berbagai lokasi dipenuhi masyarakat yang ingin menikmati atmosfer Piala Dunia secara bersama-sama.
Di banyak tempat, nobar berkembang menjadi sebuah festival rakyat yang menghadirkan hiburan jauh melampaui pertandingan sepak bola itu sendiri.
Acara-acara nobar dikemas secara kreatif dengan menghadirkan pertunjukan live musik, games interaktif, kuis dan tebak skor berhadiah, lomba juggling, pembagian doorprize, hingga berbagai aktivitas hiburan yang melibatkan anak-anak maupun orang dewasa.
Suasana yang tercipta bukan sekadar menyaksikan pertandingan melalui layar besar, melainkan membangun ruang interaksi sosial yang hangat, inklusif, dan penuh kegembiraan.
Sepak bola menjadi medium yang mempererat hubungan antarwarga sekaligus menghidupkan kembali ruang-ruang publik sebagai tempat bertemunya masyarakat.
Keberhasilan penyelenggaraan siaran Piala Dunia tentu tidak terlepas dari kesiapan infrastruktur penyiaran.
Di balik gambar yang jernih dan suara yang dapat dinikmati masyarakat, terdapat sistem transmisi yang bekerja tanpa henti.
TVRI Jambi memiliki sembilan satuan pemancar, dengan tujuh diantaranya berada dalam kondisi prima, yaitu Telanaipura (10 kW), Tungkal Ilir (500 W), Sarolangun (500 W), Bangko (500 W), Sungai Penuh (500 W), Sungai Asam–Kayu Aro (1 kW), serta satu pemancar Bangko lainnya (500 W).
Kesiapan infrastruktur tersebut memungkinkan siaran TVRI menjangkau sekitar 75 persen penduduk Provinsi Jambi.
Dampak positif dari penyelenggaraan nobar ternyata tidak berhenti pada aspek hiburan semata.
Di sekitar lokasi penyelenggaraan, aktivitas ekonomi masyarakat tumbuh dengan sangat nyata.
Pedagang makanan dan minuman, pelaku UMKM, penyedia jasa parkir, hingga pelaku usaha kecil lainnya memperoleh tambahan pendapatan dari meningkatnya jumlah pengunjung.
Hotel, kafe, dan restoran yang menjadi lokasi nobar juga mengalami peningkatan kunjungan pelanggan.
Dengan kata lain, setiap pertandingan Piala Dunia tidak hanya menghasilkan pemenang di atas lapangan, tetapi juga menghadirkan manfaat ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Inilah esensi penting dari sebuah kolaborasi. TVRI menghadirkan siaran berkualitas, pemerintah daerah menyediakan dukungan dan ruang publik, pelaku usaha menciptakan pengalaman menonton yang menarik, komunitas menggerakkan partisipasi masyarakat.
Sementara, UMKM memperoleh peluang ekonomi baru. Ketika seluruh unsur tersebut bergerak bersama, Piala Dunia berubah menjadi sebuah ekosistem sosial yang memberikan manfaat luas, jauh melampaui hasil pertandingan itu sendiri.
Pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa lembaga penyiaran publik masih memiliki relevansi yang sangat kuat di era digital.
Di tengah derasnya arus platform streaming dan layanan televisi berbayar, TVRI menunjukkan bahwa fungsi penyiaran publik tidak sekadar menayangkan program, tetapi memastikan setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati momen-momen penting dunia.
Akses yang merata terhadap siaran berkualitas merupakan bagian dari pelayanan publik yang memperkuat persatuan, memperluas inklusi, dan menghadirkan keadilan dalam memperoleh informasi serta hiburan.
Ketika peluit panjang pertandingan berbunyi, masyarakat memang kembali ke rumah masing-masing.
Namun, yang tersisa bukan hanya skor akhir atau negara mana yang berhasil melaju ke semifinal.
Yang tertinggal adalah kenangan tentang kebersamaan, ruang publik yang kembali hidup, senyum para pedagang yang dagangannya laris, semangat anak-anak yang bercita-cita menjadi pesepak bola, serta pengalaman kolektif bahwa sebuah pertandingan mampu menyatukan begitu banyak perbedaan.
Melalui Piala Dunia FIFA 2026, TVRI tidak sekadar menyiarkan sepak bola. TVRI menghadirkan kebersamaan, memperluas akses, menggerakkan ekonomi lokal, serta membuktikan bahwa televisi publik tetap memiliki peran strategis dalam membangun kohesi sosial bangsa.
Di tengah hiruk-pikuk kompetisi global, inilah kemenangan yang sesungguhnya: ketika seluruh masyarakat dapat merasakan bahwa pesta sepak bola dunia benar-benar menjadi milik semua.(*)
Tentang Penulis:
Dr. Mochammad Farisi, LL.M. Dosen Fakultas Hukum Universitas Jambi

Social Header