MAKALAMNEWS.ID - Anggota Komisi XII DPR RI, Dr Syarif Fasha menyoroti serius tantangan pengembangan hilirisasi baterai nasional serta potensi dampak negatif dari rencana pencabutan tax holiday kendaraan listrik.
Menurutnya, kebijakan tersebut bisa menghambat pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
"Kalau tax holiday kendaraan listrik dicabut, harga mobil listrik akan naik dan pengguna akan berkurang. Artinya, evolusi kendaraan listrik akan terhambat," kata anggota DPR dapil Jambi tersebut dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi XII DPR RI bersama PT Industri Baterai Indonesia (IBC) dan para pemangku kepentingan di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (2/2/2026).
Mantan Wali Kota Jambi dua periode itu menilai, dukungan pemerintah terhadap industri kendaraan listrik tidak cukup hanya melalui pendanaan.
Regulasi yang berpihak serta kesiapan infrastruktur juga menjadi kunci utama agar industri ini bisa tumbuh berkelanjutan.
Fasha mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan perpanjangan insentif pajak kendaraan listrik demi menjaga daya beli masyarakat dan mendorong percepatan transisi energi bersih.
Selain menyoroti kebijakan fiskal, Fasha mempertanyakan posisi strategis PT Industri Baterai Indonesia (IBC) dalam ekosistem BUMN nasional.
Ia menilai peran IBC harus lebih nyata dalam pengembangan industri baterai dari hulu ke hilir.
"IBC ini sebenarnya BUMN, anak BUMN, atau hanya ikut-ikutan titip uang untuk saham? Pernahkah mereka membangun perusahaan baru atau melakukan hilirisasi sendiri?" kritiknya.
Ketua DPW Partai NasDem Jambi itu juga menekankan pentingnya pemerataan infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik hingga ke daerah-daerah kecil.
Menurutnya, ketersediaan Stasiun Pengisian Baterai Listrik Umum (SPBL) dan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik (SPKL) harus diperluas, setara dengan keberadaan SPBU.
"Kalau ngecas sampai 12–20 jam di tempat umum, siapa yang mau menunggu? Harus ada super fast charger," ujarnya.
Fasha turut menyoroti pentingnya peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta pemanfaatan baterai sebagai sistem penyimpanan energi untuk mendukung energi terbarukan.
"Kalau ada storage baterai, harga listrik bisa lebih murah, apalagi untuk energi surya yang tidak bisa dimanfaatkan pada malam hari," pungkasnya.(*)

Social Header