Berita Terkini

Tanpa Proposal, Tanpa Sponsor! Idealisme Perlawanan Stokpile dan TUKS Batubara

Dr Dedek Kusnadi akademisi UIN STS Jambi.

PERGERAKAN penolakan stokpile dan aktivitas TUKS batubara kerap dicurigai tidak akan bertahan tanpa biaya operasional, tanpa proposal, dan tanpa sokongan sponsor. 

Logika ini lahir dari cara pandang transaksional yang telah lama merasuki praktik gerakan sosial. 

Namun di banyak tempat, justru sebaliknya yang terjadi. Perlawanan lingkungan sering kali hidup dan bergerak karena idealisme warga yang terdampak langsung, bukan karena ketersediaan anggaran. 

Ketika ruang hidup terancam oleh debu batubara, kebisingan, rusaknya jalan, hingga memburuknya kualitas air dan udara, kesadaran kolektif tumbuh menjadi energi perlawanan yang tidak membutuhkan ongkos.

Dalam konteks ini, idealisme berfungsi sebagai bahan bakar utama pergerakan. Rapat dilakukan di rumah warga, informasi menyebar dari mulut ke mulut, dan kehadiran massa lahir dari rasa senasib dan sepenanggungan. 

Spanduk dibuat swadaya, waktu dikorbankan di sela pekerjaan, dan risiko dihadapi bersama. 

Ketiadaan biaya operasional justru membuat pergerakan lebih luwes dan fokus pada substansi tuntutan, yakni perlindungan lingkungan hidup dan keselamatan warga dari dampak aktivitas stokpile dan TUKS batubara. 

Tanpa sponsor dan proposal, gerakan relatif steril dari kepentingan luar yang berpotensi membelokkan agenda.

Fenomena ini bukanlah anomali lokal, melainkan bagian dari pola global pergerakan lingkungan. 

Di India, gerakan Narmada Bachao Andolan bertahun-tahun melawan proyek bendungan raksasa dengan kekuatan moral komunitas petani dan masyarakat adat. 

Di Amerika Serikat, perlawanan Standing Rock Sioux terhadap pipa Dakota Access digerakkan oleh solidaritas dan keadilan ekologis, bukan oleh logistik mahal. 

Di Amerika Latin dan Afrika, komunitas lokal melawan tambang dan terminal energi yang mengancam sumber air dan kesehatan publik dengan pergerakan akar rumput yang minim dana namun konsisten. 

Semua gerakan ini menunjukkan satu kesamaan: idealisme menggantikan biaya operasional.

Ketiadaan biaya bahkan memperkuat legitimasi moral perlawanan. 

Pemerintah dan korporasi kesulitan melabeli gerakan sebagai pesanan atau ditunggangi kepentingan tertentu ketika yang berbicara adalah warga terdampak langsung. 

Tekanan sosial tidak dibangun dari kekuatan uang, melainkan dari konsistensi sikap dan keberanian mempertahankan ruang hidup. 

Dalam situasi seperti ini, idealisme menjadi benteng yang menjaga pergerakan tetap lurus dan tidak mudah dilemahkan oleh pendekatan transaksional.

Pada akhirnya, perlawanan terhadap stokpile dan TUKS batubara menegaskan bahwa pergerakan tidak selalu bergantung pada biaya operasional. 

Selama ancaman terhadap lingkungan dan keselamatan warga masih nyata, selama rasa keadilan ekologis belum dipulihkan, pergerakan akan terus menemukan jalannya. 

Sunyi, sederhana, tanpa sponsor, tetapi memiliki daya tekan yang kuat karena digerakkan oleh keyakinan bahwa lingkungan hidup bukan komoditas, melainkan hak dasar yang harus dijaga bersama.(*)

Tentang Penulis:

Dr Dedek Kusnadi, S.Sos, M.Si, MM akademisi UIN STS Jambi yang juga Pengamat Kebijakan Publik dan tinggal di Jambi
© Copyright 2022 - MakalamNews