Berita Terkini

Program Wali Kota Maulana Dikritik, Pengamat: Tak Punya Indikator Capaian, Perlu Sasaran Jelas

Dr Dedek Kusnadi Pengamat Pemerintahan.

MAKALAMNEWS.ID  – Birokrasi Pemerintah Kota Jambi diharapkan fokus pada fungsi pelayanan, sehingga setiap program punya indikator dan dimensi capaiannya. 

Dalam hal ini Dr. Dedek Kusnadi, S.Sos, M.Si, MM, seorang pengamat pemerintahan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Thaha Syaifudin Jambi, menyampaikan saran terhadap visi "Bahagia" yang diusung oleh Wali Kota Maulana.

Menjelang 100 hari pemerintahan, Dedek menilai bahwa indikator kebahagiaan yang dimaksud oleh Wali Kota Maulana tidak jelas, sehingga program-program yang dilaksanakan terkesan kabur dan melantur.

Menurut Dedek, ketidakjelasan ini menciptakan kesenjangan antara visi dan program yang dijalankan. 

"Tidak ada kejelasan mengenai bahagia dalam bidang apa, seperti apa, prioritas apa, dan sasaran apa. Hal ini membuat visi tersebut tampak kabur, melantur " ujarnya lewat rilis yang dikirim ke media ini.

Dedek menekankan, tidak semua program pemerintahan dapat disamakan dengan bisnis.

"Jangan samakan setiap program sama dengan bisnis. Dalam bisnis, indikator keberhasilan adalah keuntungan finansial. Namun, dalam birokrasi pemerintahan, harus ada ukuran yang jelas, indikator, bahkan dimensi yang terukur, jangan main klaim.

"Jangan samakan birokrasi dengan bisnis, tolok ukurnya hanya uang. Ada rumah sakit masuk uang, buat pom bensin dapat uang, bangun kampus dapat uang lagi, bikin aula pertemuan uang lagi. Nah, jika usaha menghasilkan uang, berarti indikator keberhasilan bisnis dapat uang, namun itu bisnis, beda sama birokrasi pemerintahan, harus terukur, ada indikator bahkan dimensinya, jangan uang saja, pajak dibebankan ke masyarakat." ungkapnya.

Dedek juga mengkritik pendekatan program wali kota yang dinilai tidak berfokus pada penyelesaian masalah yang ada. 

Ia mencontohkan, masalah transportasi publik yang seharusnya ditangani dengan baik, justru beralih menjadi masalah baru ketika terminal direncanakan untuk dialihfungsikan menjadi tempat jualan milenial. 

Selain itu, ia juga menyoroti anggaran yang minim untuk penanganan banjir, yang hanya sekitar dua miliar rupiah untuk Detail Engineering Design (DED), padahal banjir butuh keberanian wali kota untuk mengalokasikan anggaran.

Kritik ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi Wali Kota Maulana untuk lebih memperjelas visi dan program yang dijalankan, agar dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat Kota Jambi.(*)

© Copyright 2022 - MakalamNews Berita Untuk Anda