MAKALAMNEWS.ID - Pengamat Pemerintahan dari UIN STS Jambi Dr Dedek Kusnadi S.Sos M.Si MM memberikan analisis mendalam mengenai kinerja Wali Kota Jambi Maulana dibandingkan dengan pendahulunya H Syarif Fasha.
Dari rilis yang diterima media ini, dalam penilaiannya, Dr Dedek menggunakan tiga parameter utama yang dianggap krusial dalam menilai efektivitas kepemimpinan.
Parameter pertama yang dianalisis adalah inovasi dalam 100 hari pertama masa jabatan.
Menurut pengamat yang dikenal kritis ini, sepuluh tahun yang lalu, Syarif Fasha berhasil meluncurkan gerakan kota hijau dengan menanam tanaman penyedot polusi di sepanjang jalan trotoar.
Hasilnya, dalam 100 hari kerja, Kota Jambi tampak asri dan hijau, menciptakan citra sebagai green city.
Sementara itu, Maulana, dalam periode yang sama, dinilai nyaris tidak melakukan inovasi yang signifikan.
Parameter kedua adalah konsolidasi anggaran untuk hal-hal yang prioritas.
Dedek mencatat bahwa Syarif Fasha mampu memfokuskan anggaran untuk memperbaiki jalan rusak di kota dalam 100 harinya.
Di sisi lain, Maulana terlihat lebih banyak menghabiskan waktu untuk rapat dan seminar yang tidak jelas urgensinya, sehingga mengabaikan perbaikan infrastruktur yang mendesak.
Parameter ketiga berkaitan dengan kepemimpinan dalam pemerintahan.
Syarif Fasha dinilainya berhasil menanamkan dasar-dasar birokrasi yang berwibawa sebagai fondasi layanan publik yang baik.
Namun, di era kepemimpinan Maulana, Dedek mengamati adanya ketidakpercayaan terhadap birokrasi.
Hal ini terlihat dari upaya Maulana yang ingin menjadikan RT (Rukun Tetangga) seolah-olah sebagai birokrasi, yang dinilai tidak sesuai dengan prinsip-prinsip pemerintahan yang efektif.
Dari analisis ini, Dr Dedek Kusnadi menekankan pentingnya inovasi, pengelolaan anggaran yang tepat, dan kepercayaan terhadap birokrasi dalam menciptakan pemerintahan yang efektif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Penilaian ini diharapkan dapat menjadi bahan refleksi bagi Walikota Maulana dalam meningkatkan kinerjanya ke depan.(*)
Social Header