Oleh: Topan Prasetya Wibawa*
Malam minggu itu waktu baru saja menunjukkan pukul 20.09 WIB.
Suasana tenang semi sunyi menyelimuti areal Kampus UIN Telanaipura tepatnya di Rumah
Dinas Rektor.
Seseorang keluar dari mobil berklir putih, berperawakan tegap, macho dan
cepak dengan busana casual style langsung disambut sang tuan rumah yang malam
itu mengenakan potongan Batik Jambi berlengan pendek plus berkopiah hitam.
Keduanya
terlihat bersalaman hangat dan cipika-cipiki. Sejurus kemudian, keduanya menuju
ruang tamu utama, disusul tiga orang lainnya, turut membuntuti dari belakang.
Rupanya sang tamu malam itu tak sembarang orang, ia tak lain adalah
Kepala Satuan Tugas Wilayah (Kasatgaswil) Detasemen khusus (Densus) 88 Mabes
Polri AKBP Berri Diantra, S.I.K, M.H. Yang malam itu spesial “malam mingguan” bertandang ke kediaman Ketua Forum
Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Jambi Prof Dr As’ad Isma yang
tak lain adalah Rektor UIN STS Jambi.
Menariknya ‘menu’ yang dibicarakan yang
tengah hits saat ini yakni banyaknya warga Jambi yang terafiliasi dengan Negara
Islam Indonesia (NII).
“Mari dicoba Prof ini Ceruru Italy Toscano, ringan kok,” ujar sang
tamu menawari dengan penuh penghormatan kepada tuan rumah, seraya menyodorkan bungkus
kotak cerutu seraya menyulut cerutu yang tepat telah berada di bibir Prof As’ad.
Keduanya ternyata sama-sama “ahli hisab” seraya menyeruput kopi tentunya.
Pembincangan ringan soal peristiwa bersejarah bagi Provinsi Jambi
yang terjadi pada Kamis 25 Juli 2024.
Di manam sebanyak 256 orang yang
terafiliasi dengan kelompok NII melakukan cabut baiat dan ikrar setia kepada
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang diinisiatori Densus 88.
NII bangkit kembali? Boleh jadi benar. Menurut Berri gerakan NII boleh
dibilang tidak pernah mati.
Selama obsesi mewujudkan Negara Islam Indonesia
belum terwujud, kelompok-kelompok NII akan selalu ada. "Tujuan mereka
mendirikan negara Islam," sebutnya sambil menghisap cerutunya.
Memang, tak banyak yang mengetahui keberadaan kelompok-kelompok NII
saat ini di Jambi.
Pasalnya, keberadaan kelompok tersebut sukar dideteksi.
Tempat berkumpul kelompok ini pun selalu berpindah-pindah.
Gerak-geriknya pun
cukup ekslusif. Tidak sembarang orang bisa masuk. Bahkan, seseorang harus
dibaiat terlebih dahulu sebelum menjadi anggota.
Ia juga dilarang bercerita
kepada siapa pun, kecuali sesama anggota kelompok "N sebelas" begitu
sebutan lain untuk NII.
Yang mencengangkan, kelompok ini pun telah mempunyai struktur
organisasi yang solid di Jambi. Ibarat sebuah negara, kelompok ini telah
memiliki struktur pemerintahan dari atas sampai bawah. Mulai, Gubernur, Bupati,
Camat hingga RT dan RW. begitu pula dengan angkatan perangnya.
“Bahkan Panglima-nya untuk wilayah Sumatera tinggalnya di Jambi,
bahkan kita sudah mendeteksi ada keinginan mereka untuk membeli senjata dari
Aceh,” terang pria yang telah mengenyam pendidikan khusus mengenai anti teror
di negeri Paman Sam Amerika tersebut.
NII merupakan isu serius yang tak pernah pupus. Keberadaan NII
pertama kali diproklamirkan oleh Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo pada 7 Agustus
1949. Daerah Tasikmalaya, Jawa Barat menjadi basis pertama NII.
Gerakan serupa
kemudian meluas di Sulawesi Selatan dengan di pimpin Kahar Muzakar pada 20
Januari 1952. Kemudian disusul pembentukan NII di Aceh oleh Abu Daud Beureuh
pada 21 September 1953. Namun, pembentukan negara dalam negara ini semuanya
berhasil dipatahkan.
Kasat Berri menjelaskan bahwa tujuan dari acara lepas bai'at adalah untuk mengembalikan individu yang
pernah terafiliasi dengan NII kepada nilai-nilai moderat sesuai dengan
Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
"Perlu diketahui, NII terdiri dari
dua kelompok yaitu KW 9 dan MYT (Muhammad Yusuf Tohiri)," ujarnya.
Kelompok NII pertama kali
masuk ke Provinsi Jambi pada tahun 1987 melalui KW 9, yang dibawa oleh Muthasor Harbi, mantan Menteri Pendidikan sekaligus Dewan Imamah
NII, di wilayah Koto Lolo, Sei Ulak, Kabupaten Kerinci, Jambi.
Dalam
perkembangannya, NII di Jambi merekrut banyak pengikut dari kalangan pelajar
SMA, mahasiswa, dan masyarakat umum.
"Selain masyarakat umum, banyak instansi yang ada NII-nya mulai dari Imam
Masjid di Kota Jambi, pegawai kementerian, kalau di UIN belum terdeteksi
adanya,” lanjut Berri yang dihadiahi senyum simpul oleh pemilik BH 12 Rektor
UIN.
Mereka yang mengikuti
acara batal bai'at dan menyatakan kembali bergabung dengan NKRI adalah anggota
dari NII yang telah mendapatkan hidayah untuk kembali ke NKRI.
Densus 88 juga
berharap kepada pemangku kepentingan agar menerapkan strategi baru yang
sistematis untuk mencegah berkembangnya intoleransi dan radikalisme yang kasat
mata dapat menjadi ancaman nyata.
“Ibarat pohon, akarnya radikal dan buahnya
teroris. Kalau radikal dibiarkan dan yang ditangkap cuma teroris, yang dipetik
buahnya, akarnya tidak dicabut, maka selamanya terorisme akan tetap ada, setiap
musim, pohon itu akan berbuah. Ini sangat berbahaya," demikian kiasan
diksi yang diutarakan Prof As’ad.
Sehingga menurutnya, NII adalah kelompok yang
sangat mengkhawatirkan dan harus segera ditindak tegas karena mengancam
kedaulatan bangsa dan negara.
Tentu mendorong negara untuk terus membuat regulasi
tegas yaitu melarang semua paham yang bertentangan dengan ideologi Pancasila
dan NKRI karena semua paham radikalisme bertentangan dengan Pancasila.
Proses perekrutan anggota NII digelar
secara terstruktur dan sistematis.
Untuk bergabung menjadi warga NII seseorang
harus melalui empat tahap perekrutan yang disebut P1 hingga P4, selain itu
setiap calon juga melalui tiga tahap baiat.
Perekrutan NII dilakukan tanpa
memandang jenis kelamin atau batas usia. Target NII adalah semua kalangan namun
memang diprioritaskan anak muda. karena anak muda ini biasanya sedang mencari
jati diri.
Anak muda semangatnya sedang membara. Ketika ditawarkan hal baru, yang
dasar ‘agamanya’ lemah akan cepat nyangkut, langsung merespon. Harus ada
sosialisasi yang masif kepada masyarakat soal bahayanya idiologi NII.
“Persatuan dan kesatuan adalah kekuatan terbesar kita
sebagai bangsa. Dengan bersama-sama membangun Indonesia, kita harus menjaga
keutuhan NKRI dalam segala kondisi dan situasi,” tukas Prof As’ad.
Operasi
Densus 88 di Jambi melibatkan kolaborasi erat dengan pemerintah daerah dan berbagai
elemen lainnya termasuk FKPT.
Pendekatan persuasif dan edukasi menjadi strategi
utama dalam memastikan anggota NII kembali ke pangkuan NKRI tanpa penegakan
hukum yang keras.
Edukasi dari tokoh agama, adat, dan masyarakat adalah kolaborasi
dalam menjaga keamanan dan ketertiban di Jambi.
“Pencabutan baiat, diharapkan tidak hanya menciptakan
kedamaian di Jambi, tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang
pentingnya dialog, toleransi, dan kerjasama. Ini menjadi langkah besar dalam
menjaga kamtibmas melalui pendekatan yang lebih humanis.” beber profesor
bertubuh semi tambun ini antusias. Ia juga mengingatkan bahwa tidak ada
penyakit yang benar-benar pergi dari kehidupan manusia, termasuk ideologi
radikal seperti NII. “Mereka hanya bersembunyi dan akan menjangkiti manusia
saat lengah,” tegasnya.
Densus juga telah mendeteksi tak kurang dari 15
yayasan yang terafiliasi dengan NII. Yayasan-yayasan tersebut tersebar di
beberapa kabupaten dan kota, termasuk Kota Jambi, Muaro Jambi, Batanghari,
Tebo, Merangin, dan Kerinci.
Yayasan-yayasan tersebut diduga menjadi basis
penyebaran ideologi radikal dan rekrutmen anggota baru NII. Mahasiswa menjadi ladang garapan yang mudah, karena di sinilah
proses pencarian jati diri berlangsung.
Kolaborasi dan kerjasama ke depan antara Densus dan FKPT sebagai
perpanjangan tangan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di daerah Jambi
menghadapi virus NII adalah “janji yang terucap di malam itu” antara keduanya.
Sang tuan rumah-pun melepas kepergian tamunya satu setenggah jam
kemudian, penulis tak sengaja melihat arloji yang ternyata telah menunjukkan
pukul 21.39 WIB.
“Terima kasih banyak prof, diskusinya, jamuanya, kami pamit,” imbuh
Berri seraya penuh ketakziman membungkukkan badan. Kedua belah pihak sepertinya
percaya bahwa ‘tidak ada perjuangan yang bisa dilakukan sendiri-sendiri’. dan
‘tidak ada logam yang tidak meleleh di dalam api’.(*)
*Penulis Adalah Tabi’in FKPT Prov Jambi


Social Header