Dr Noviardi Ferzi dan Dr Dedek Kusnadi
MAKALAMNEWS.ID - Pengamat Politik Dr Dedek Kusnadi S.Sos, M.Si, MM kembali memberikan analisa politik terbarunya menjelang Pemilihan Wali Kota (Pilwako) Jambi 2024.
Kali ini, Dosen UIN STS Jambi itu mengatakan dinamika
lapangan, banyak tim sukses Maulana Diza yang akan berpindah (eksodus)
kepasangan calon lain.
"Iya saya lihat ada sinyalemen, tentang dugaan
banyak ketidakpuasan para tim melihat cara pengelolaan sumber daya tim. Mereka
mengeluh hanya dijadikan pajangan semata, sementara yang kerja hanya satu atau
dua orang, jadi mereka sudah berfikir akan berdiam diri untuk pergi,"
katanya saat diskusi politik di sekretariat IMC, Kamis (15/8/2024) malam.
Menurut Dedek, inti dari ketidakpuasan para tim ini
ada masalah komunikasi dari calon yang kurang baik, tidak mengenal pembagian
tugas, tidak ada delegasi tugas dan minimnya kepercayaan calon kepada tim.
"Saya hanya dengar cerita, terlepas benar atau
tidak. Inti dari ketidakpuasan para tim ini ada masalah komunikasi dari calon yang
kurang baik, tidak mengenal pembagian tugas, tidak ada delegasi tugas dan
minimnya kepercayaan calon kepada tim,” katanya.
Selanjutnya, Dedek Kusnadi juga menerangkan tentang
fenomena tim sukses dalam pilkada.
Menurutnya, baik timses maupun pasangan calon
bekerja keras untuk memenangkan pilkada.
Tetapi, bukan berarti timses selalu menguntungkan
pasangan calon. Strategi yang kurang matang dari timses berpeluang merugikan
pasangan calon.
"Memang sering kali timses jadi beban.
Misalnya, partai sering kali tidak bergerak kalau tidak ada dana operasional
yang turun. Itu masih jadi pekerjaan rumah," jelasnya.
Dedek juga menjelaskan dana operasional yang
dianggap sebagai biaya politik itu bukanlah biaya yang murah. Biaya politik itu
seakan jadi prasyarat bagi timses untuk bergerak.
Dr Noviardi Ferzi pengamat politik senior juga
menjelaskan, biaya politik bukan satu-satunya faktor yang bisa membuat timses
menjadi beban.
Kerja timses yang tidak merata di lapangan juga
menjadi salah satu faktor.
"Sering terjadi penumpukan hanya pada satu
daerah. Sementara daerah lain tidak ada timses yang bisa mewakili kandidat, ini
sering jadi masalah," katanya.
Menurutnya, timses yang baik adalah yang bisa
mengoptimalkan kepengurusan partai pendukung dan relawan, sampai ke anak
ranting dan RT.
Menjangkau simpatisan partai dan masyarakat yang
benar-benar ada di sekitar masyarakat pemilih.
"Tim yang paling ideal ada koordinator per TPS (Tempat Pemungutan Suara). Betul-betul timses ini menjangkau secara menyeluruh pemilih yang ada di daerah tersebut sehingga sosialisasi bisa merata," pungkasnya.(*)

Social Header