Berita Terkini

Saat Jalan Kota Jambi Mulai Berlubang, Integritas Janji Politik 100 Juta Maulana Mulai Dipertanyakan

Pengamat Politik Dr Noviardi Ferzi

MAKALAMNEWS.ID - "Politisi tidak pernah percaya atas ucapannya sendiri. Mereka justru terkejut bila rakyat mempercayainya." 

Kutipan dari Charles de Gaulle ini dikutip pengamat Politik Senior Jambi Dr Noviardi Ferzi tentang visi Bahagia yang digembar-gemborkan bakal calon Wali Kota Jambi Dr Maulana yang mengumbar janji bombastis dan cenderung irrasional.

Menurut Noviardi, kata-kata Charles de Gaulle itu menjadi relevan menanggapi janji- janji politik yang dilontarkan Maulana untuk memikat masyarakat di pemilihan wali kota November 2024 nanti.

"Selaku mantan wakil wali kota pentingnya juga ditanya pada Pak Maulana, ia sendiri percaya ngak janjinya itu bisa terealisasi, atau jangan-jangan terkejut ketika ada yang percaya akan janji itu," ungkapnya saat diskusi dengan awak media, Rabu (24/7/2024) kemarin.

Pertanyaan yang dilontarkan pengamat ini terkait salah satu janji politik Maulana yang menimbulkan kontroversi luas yakni janji 100 juta per RT. 

Dalam argumen yang dibangun pada program ini adalah dari tuntutan pemerataan dan keadilan pembangunan di Kota Jambi. Namun, menurut Noviardi argumen ini justru patut dipertanyakan, karena kondisi sosial infrastruktur tiap RT di Kota tentu berbeda, maka aneh jika alokasi anggaran diberlakukan sama nominalnya untuk tiap RT.

"Pemerataan dan keadilan pembangunan itukan bukan berarti sama rata sama rasa, tidak seperti itu, karena situasi sosial infrastruktur RT tidak sama, jadi keliru jika mengatakan program ini untuk keadilan dan pemerataan, apalagi disebut pemberdayaan," ungkapnya.

Kebiasaan mengumbar janji politik yang kontroversial ini dinilai Noviardi juga terkesan menyalahi prinsip konektivitas kewilayahan dalam pembangunan. 

Dalam hal ini Maulana keliru memandang RT sebagai bagian dari pemerintahan. Padahal RT adalah pembagian administratif pemerintahan terendah, tetapi bukan bagian dari pembagian administrasi pemerintahan.

"RT adalah pembagian administratif pemerintahan terendah, tetapi bukan bagian dari pembagian administrasi pemerintahan. Ia bukan pengguna anggaran, cara pandang ini yang agak keliru dipahami Maulana, saat jalan kota mulai berlubang, sebaiknya ia fokus merancang program mengatasi hal ini, bukan cerita yang bukan-bukan," jelasnya.

Sebelumnya, ramai diberitakan rancangan Kebijakan Umum APBD serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (KUA PPAS) Tahun Anggaran 2025 seolah menjadi catatan kritis kepada Bakal Calon Wali Kota Jambi Maulana agar menyusun visi secara rasional dan terukur.

Betapa tidak, saat Maulana mengobral janji akan memberi dana 100 juta per RT, kini muncul kenyataan di tahun 2025 nanti diperkirakan APBD Kota Jambi turun tajam sebesar Rp 337 Miliar. Sehingga ada kesan visi misi yang ia tawarkan ke masyarakat tak terukur dan tak disusun secara profesional.

"KUA PPAS inikan sebuah fakta tentang kemampuan keuangan Kota Jambi tahun 2025 turun Rp 337 miliar. Lalu, jika pak Maulana menjanjikan 100 juta per RT, di mana rasionalitas janjinya? Jelas-jelas fiskal pemkot lagi susah, ia menebar janji yang tak merujuk data, tak terukur dan tak profesional, ini yang kita kritisi," ujarnya.

Sebagai catatan, poyeksi pendapatan daerah untuk tahun 2025 direncanakan mencapai Rp 1 Triliun 576 Miliar 311 Juta 389 Ribu Rupiah. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 15,44 % dibandingkan dengan pendapatan daerah pada tahun 2024 yang mencapai Rp 1 Triliun 864 Miliar 222 Juta 611 Ribu Rupiah.

Di lain sisi, Pemkot Jambi merencanakan belanja daerah sebesar Rp 1 Triliun 616 Miliar 311 Juta 389 Ribu Rupiah, mengalami penurunan sebesar 17,29 % dari tahun sebelumnya yang mencatat Rp 1 Triliun 954 Miliar 222 Juta 611 Ribu Rupiah. 

"Tanpa memasukan janji Maulana yang 100 juta per RT itu belanja kota sudah Rp 1,6 triliun lebih, itupun masih defisit Rp 40 miliar lebih, dari mana anggarannya," pungkasnya.(*)

© Copyright 2022 - MakalamNews Berita Untuk Anda