Berita Terkini

Raden Ridwan tak Dipilih jadi Wakil Maulana, Pemilih Loyal Diprediksi Arahkan Dukungan ke Calon Lain

Deklarasi dukungan Relawan Kawan Ridwan baru-baru ini

MAKALAMNEWS.ID -  Bakal calon Wali Kota Jambi Maulana sudah memilih Diza untuk pendampingnya ikut Pilwako Jambi 2024.

Maulana lebih memilih Diza daripada memilih Raden Ridwan Mucthar putera asli Seberang Kota Jambi.

Padahal, relawan Raden Ridwan banyak dari kalangan pemilih pemula.

Tentu saja, hal menimbulkan kekecewaan bagi pendukung Raden Ridwan Muchtar atau yang akrab dipanggil Muk Ridwan.

Diprediksi, pendukung fanatik Muk Ridwan bakal berpindah dukungan ke bakal calon wali kota lainnya.

Rey satu orang dekat Muk Ridwan sendiri mengungkapkan ada rasa kekecewaan dari pendukungnya.

“Itu lumrah ya. Mereka (pendukung) berharap Maulana memilih Muk Ridwan, ternyata tidak. Banyak lho Muk Ridwan itu pemilih yang loyal kepadanya,” ujarnya.

Namun, katanya, Raden Ridwan tetap melakukan sosialisasi dan turun ke masyarakat.

“Ia optimistis bisa maju di Pilwako Jambi. Saat ini terus sosialisasi dan melakukan lobi-lobi ke partai politik,” pungkasnya

Melihat hal ini, Pengamat Politik dari UIN STS Jambi Dr Dedek Kusnadi, S.Sos, M.Si, MM menilai hal itu sah-sah saja.

Menurutnya, larinya dukungan dari pendukung Raden Ridwan dipastikan buntut kekecewaan kenapa Maulana tidak memlih putera asli Jambi tersebut.

“Jadi begini, jika dilihat  trafik pembicaraan di media sosial, masyarakat, tingkat elit hingga akar rumput, semua memicarakan soal Maulana memilih Diza. Nah, potensi eksodus pemilih yang merasa di ghosting Maulana bakal terjadi,” katanya.

Dedek beralasan, hal itu sangat alamiah ada aksi dan reaksi.

Menurutnya, Maulana melakukan aksi politik, para rivalnya melakukan reaksi. Nah, satu bentuk reaksi ini mereka tak mau lagi memilih Maulana.

"Saya belajar teori politik sampai ke Turki dan Belanda, pondasi elektoral seorang calon itu akarnya kesukaan (likebilitas). Jika seseorang tak membuat nyaman kamerad politiknya, ia akan ditinggalkan, tak jadi memilih (vote eksodus). Jika, Maulana keberatan akan analisa ini, boleh dibedah jurnalnya,"  ujarnya.

Ditanya mana besar pemilih yang lari dan pemilih yang masuk (migrasi) pasca duet Maulana-Diza, akademisi ini hanya menjawab tak cukup waktu lagi menyeimbangkan rasa kecewa pemilih dengan waktu yang ada.

“Soal mana yang banyak mereka yang eksodus dan yang masuk, kita bicara waktu. Tidak cukup waktu lagi membangun balance orang yang kecewa menjadi lupa. Intinya, Maulana akan mengalami gelombang psikologi kecewa orang.," pungkasnya.(rud/*)

© Copyright 2022 - MakalamNews Berita Untuk Anda