MAKALAMNEWS.ID - Pemilihan Wali Kota (Pilwako) Jambi 2024 melahirkan banyak analis dan kajian dari berbagai pengamat politik untuk memberikan pencerahan dan edukasi bagi masyarakat dalam memilih pemimpinnya.
Kali ini pengamat politik Dr Noviardi Ferzi kembali membicarakan dua faktor yang kemungkinan akan menyendera Maulana jika terpilih sebagai Wali Kota Jambi.
"Saya lihat faktor janji politik dan kongsi politik akan menjadi bahan ujian bagi Pak Maulana jikapun terpilih nanti sebagai wali kota. Ini yang membuat ia rentan tersandera," katanya saat menghadiri undangan komunitas kaki lima untuk diskusi politik, Kamis (18/7/2024) kemarin.
Soal faktor janji politik, Noviardi menyoroti soal visi Maulana yang menjanjikan dana 100 juta per RT di Kota Jambi.
Menurutnya, dengan APBD Kota Jambi yang defisit di 2024 dan 2025 nanti program tersebit akan sangat sulit terealisasi. Sehingga, Maulana jika terpilih sulit untuk memenuhi janji politiknya.
"Faktor pertama yang membuat Maulana tersandera tentu soal janji 100 juta per RT yang dinilai berbagai kalangan kurang rasional. Saat APBD kota defisit, ia merancang program yang menjadi beban fiskal pemerintah kota. Kecuali dari awal niatnya hanya sebatas gimmik sekedar untuk menarik pemilih," ujarnya.
Program ini mendapat kritikan luas dari masyarakat, karena saat Maulana mengobral janji akan memberi dana 100 juta per RT, muncul kenyataan di 2025 nanti diperkirakan APBD Kota Jambi justru anjlok sebesar Rp 337 Miliar.
Sebagai catatan, soal kemampuan keuangan kota. Di 2025, proyeksi pendapatan kota direncanakan mencapai Rp 1 Triliun 576 Miliar lebih.
Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 15,44 % dibandingkan dengan pendapatan tahun 2024 yang mencapai Rp 1 Triliun 864 Miliar lebih.
Di sisi lain, Pemkot Jambi mengalokasikan belanja sebesar Rp 1 Triliun 616 Miliar 311 Juta lebih, mengalami penurunan sebesar 17,29 % dari tahun sebelumnya yang mencatat Rp 1 Triliun 954 Miliar 222 lebih.
Dari fakta ini, ada kesan visi misi yang Maulana tawarkan ke masyarakat tak terukur dan tak disusun secara profesional.
Sedangkan, faktor ke dua yang membuat Maulana akan tersandera adalah Kongsi Politik. Bukan rahasia umum dilapisan masyarakat bawah, munculnya nama putra sang juragan besar sebagai calon wakil wali kota yang dipilih Maulana, diduga lahir dari berbagai kesepakatan dan perjanjian, khususnya tentang bagi - bagi kapling jabatan dan kue pembangunan.
"Jika kita mendengar obrolan di warung kopi, di media sosial dan grup-grup WA, ada isu mahar untuk menjadi wakil, ada slot Sekda jatah siapa, kadis PUPR punya siapa, pendidikan jatah siapa, Bakeuda diserahkan kemana. Terlepas benar atau salah, hal seperti ini rentan akan membuat Maulana tersandera, tak fokus membangun kota, jika terpilih," ujarnya.
Terakhir, Noviardi mengatakan apa yang ia sampaikan hanya sebatas edukasi bagi masyarakat Kota Jambi, agar jangan sampai salah dalam memimpin Kota Jambi. Karena tak akan maju sebuah kota jika pemimpinnya tersandera.(*)
Social Header