Berita Terkini

Etika Politik dalam Penghinaan Pribadi Terhadap Bakal Calon Gubernur

 

Dr Dedek Kusnadi


 DALAM  dunia politik, etika sering kali menjadi kompas moral yang membimbing tindakan dan keputusan para pelaku politik. 

 

Namun, pada kenyataannya, kampanye politik sering kali melibatkan serangan pribadi terhadap lawan, yang menimbulkan pertanyaan serius tentang pelanggaran etika. 

 

Fenomena ini dapat diamati dalam kontestasi pemilihan gubernur berbagai daerah. Di mana, serangan pribadi terhadap bakal calon gubernur sering kali terjadi.

 

Serangan pribadi dalam politik biasanya mencakup penghinaan, fitnah, dan penyebaran informasi yang meragukan atau bahkan palsu tentang kehidupan pribadi calon. 

 

Serangan semacam ini tidak hanya merusak integritas pribadi calon, tetapi juga mengabaikan isu-isu substantif yang seharusnya menjadi fokus utama dalam kampanye politik. 

 

Selain itu, penghinaan pribadi dalam politik cenderung merusak kepercayaan publik terhadap proses demokrasi dan mengalihkan perhatian dari debat kebijakan yang konstruktif.

 

Dampak Negatif Penghinaan Pribadi

 

Merusak Citra Politik.

 

Ketika kampanye politik diwarnai oleh serangan pribadi, masyarakat cenderung kehilangan kepercayaan pada politisi dan proses politik secara keseluruhan. 

 

Hal ini dapat mengurangi partisipasi publik dalam pemilihan dan melemahkan legitimasi hasil pemilu.

 

Mengalihkan Fokus dari Isu Penting.! 

 

Penghinaan pribadi mengalihkan perhatian dari isu-isu kebijakan yang sebenarnya penting bagi publik. 

 

Alih-alih membahas visi, misi, dan program kerja, kampanye justru terjebak dalam pusaran kontroversi pribadi yang tidak relevan.

 

Menciptakan Polarisasi

 

Serangan pribadi dapat memicu polarisasi yang lebih dalam di masyarakat. 

 

Pendukung masing-masing calon mungkin menjadi lebih ekstrem dalam dukungan mereka, sehingga sulit untuk mencapai konsensus atau dialog yang konstruktif setelah pemilihan usai.

 

Etika Politik Sebagai Solusi

 

Untuk mengatasi masalah ini, para politisi dan tim kampanye mereka harus menegakkan standar etika yang tinggi dalam berpolitik. 

 

Beberapa Langkah yang Dapat Diambil:

 

1. Mengutamakan Debat Substantif

 

Fokuslah pada isu-isu kebijakan dan program kerja yang akan dibawa oleh masing-masing calon. Ini akan membantu publik membuat keputusan yang lebih informasi dan rasional.

 

2. Menghormati Privasi Lawan 

 

Hindari mengangkat isu-isu pribadi yang tidak relevan dengan kapasitas calon untuk memimpin. 

 

Serangan terhadap kehidupan pribadi seseorang seharusnya tidak menjadi bagian dari strategi kampanye.

 

3. Membangun Kampanye Positif 

 

Masing-masing calon harus lebih menonjolkan prestasi, visi, dan misi mereka sendiri daripada mencari kesalahan lawan. 

 

Kampanye positif tidak hanya lebih etis tetapi juga lebih efektif dalam jangka panjang.

 

4. Melibatkan Media Secara Etis

 

Media memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi kepada publik. 

 

Oleh karena itu, media juga harus menjaga etika dengan tidak menyebarluaskan berita-berita yang sifatnya fitnah atau penghinaan pribadi.

 

Kesimpulan

 

Penghinaan pribadi dalam kampanye politik tidak hanya melanggar etika, tetapi juga merugikan proses demokrasi dan masyarakat. 

 

Dengan mengedepankan etika politik, fokus pada isu substantif, dan menghindari serangan pribadi, para politisi dapat membangun kampanye yang lebih bermartabat dan konstruktif. 

 

Ini tidak hanya akan meningkatkan kualitas pemilihan, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik terhadap sistem politik kita.

 

Semoga penghinaan langsung secara pribadi dari pengaruh politik, dapat kita hindari bersama, dalam demokrasi.(*)


Dr Dedek Kusnadi

Pengamat Kebijakan Publik dan Politik

Akademisi UIN STS Jambi

© Copyright 2022 - MakalamNews