Namun, pada kenyataannya, kampanye
politik sering kali melibatkan serangan pribadi terhadap lawan, yang
menimbulkan pertanyaan serius tentang pelanggaran etika.
Fenomena ini dapat diamati dalam
kontestasi pemilihan gubernur berbagai daerah. Di mana, serangan pribadi
terhadap bakal calon gubernur sering kali terjadi.
Serangan pribadi dalam politik
biasanya mencakup penghinaan, fitnah, dan penyebaran informasi yang meragukan
atau bahkan palsu tentang kehidupan pribadi calon.
Serangan semacam ini tidak hanya
merusak integritas pribadi calon, tetapi juga mengabaikan isu-isu substantif
yang seharusnya menjadi fokus utama dalam kampanye politik.
Selain itu, penghinaan pribadi dalam
politik cenderung merusak kepercayaan publik terhadap proses demokrasi dan
mengalihkan perhatian dari debat kebijakan yang konstruktif.
Dampak
Negatif Penghinaan Pribadi
Merusak Citra Politik.
Ketika kampanye politik diwarnai
oleh serangan pribadi, masyarakat cenderung kehilangan kepercayaan pada
politisi dan proses politik secara keseluruhan.
Hal ini dapat mengurangi partisipasi
publik dalam pemilihan dan melemahkan legitimasi hasil pemilu.
Mengalihkan
Fokus dari Isu Penting.!
Penghinaan pribadi mengalihkan
perhatian dari isu-isu kebijakan yang sebenarnya penting bagi publik.
Alih-alih membahas visi, misi, dan
program kerja, kampanye justru terjebak dalam pusaran kontroversi pribadi yang
tidak relevan.
Menciptakan
Polarisasi
Serangan pribadi dapat memicu
polarisasi yang lebih dalam di masyarakat.
Pendukung masing-masing calon
mungkin menjadi lebih ekstrem dalam dukungan mereka, sehingga sulit untuk
mencapai konsensus atau dialog yang konstruktif setelah pemilihan usai.
Etika
Politik Sebagai Solusi
Untuk mengatasi masalah ini, para
politisi dan tim kampanye mereka harus menegakkan standar etika yang tinggi
dalam berpolitik.
Beberapa
Langkah yang Dapat Diambil:
1. Mengutamakan Debat Substantif
Fokuslah pada isu-isu kebijakan dan
program kerja yang akan dibawa oleh masing-masing calon. Ini akan membantu
publik membuat keputusan yang lebih informasi dan rasional.
2. Menghormati Privasi Lawan
Hindari mengangkat isu-isu pribadi
yang tidak relevan dengan kapasitas calon untuk memimpin.
Serangan terhadap kehidupan pribadi
seseorang seharusnya tidak menjadi bagian dari strategi kampanye.
3. Membangun Kampanye Positif
Masing-masing calon harus lebih
menonjolkan prestasi, visi, dan misi mereka sendiri daripada mencari kesalahan
lawan.
Kampanye positif tidak hanya lebih
etis tetapi juga lebih efektif dalam jangka panjang.
4. Melibatkan Media Secara Etis
Media memiliki peran penting dalam
menyampaikan informasi kepada publik.
Oleh karena itu, media juga harus
menjaga etika dengan tidak menyebarluaskan berita-berita yang sifatnya fitnah
atau penghinaan pribadi.
Kesimpulan
Penghinaan pribadi dalam kampanye
politik tidak hanya melanggar etika, tetapi juga merugikan proses demokrasi dan
masyarakat.
Dengan mengedepankan etika politik,
fokus pada isu substantif, dan menghindari serangan pribadi, para politisi
dapat membangun kampanye yang lebih bermartabat dan konstruktif.
Ini tidak hanya akan meningkatkan
kualitas pemilihan, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik terhadap sistem
politik kita.
Semoga penghinaan langsung secara
pribadi dari pengaruh politik, dapat kita hindari bersama, dalam demokrasi.(*)
Dr Dedek Kusnadi
Pengamat Kebijakan Publik dan Politik
Akademisi UIN STS Jambi
Social Header